KEPERAWATAN MARITIM ASUHAN KEPERAWATAN DIARE
ASUHAN
KEPERAWATAN PADA KLIEN
DENGAN
PENYAKIT DIARE
Oleh
kelompok II
|
Anang
Sastiana
|
S. 0017. P. 003
|
|
Ayu
Astuti
|
S.
0017.P. 010
|
|
Indayanti
Hudin
|
S.0017.
P. 018
|
|
Noperialda
Anggraeni .s
|
S.0017.P.028
|
|
Suramadhan
|
S.0017.
P. 037
|
|
Riski
aswilan
|
S.
0016. P. 025
|
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
KARYA KESEHATAN KENDARI
PRODI S1 KEPERAWATAN
KENDARI
Alhamdulillah atas berkat dan
rahmat Allah SWT yang telah memberikan kesehatan sehingga kami bisa masih bisa menyelesaikan tugas makalah ini
guna memenuhi tugas Mata Kuliah Keperawatan Maritim dan tidak lupa juga kami ucapkan terima kasih
kepada Dosen Mata Kuliah yang telah memberi tugas ini sehingga kami dapat mengetahui dan memahami isi makalah
tersebut.
Semoga dengan adanya makalah
tersebut bisa memberi wawasan tentang pentingnya Profesi Perawat dalam
Masyarakat khususnya kepada saya pribadi dan teman-teman sejawat saya dan kami
menyadari dalam penulisan makalah ini masih terdapat banyak kesalahan dan
kekurangan sehingga kami sangat mengharapkan kritikan terhadap pembaca guna
kesempurnaan penulisan makalah berikutnya. Wassalamualaikum Wr Wb.
Kendari 26 -04;2020
penulis
DAFTAR PUSTAKA
Contents
DAFTAR TABEL
|
Nomor
|
Judul
|
halaman
|
|
Tabel 1
|
penyebab diare akut dan
kronik pada bayi, anak anak dan remaja
|
14
|
|
Tabel 2
|
Gejala khas diare akut oleh
berbagai penyebab
|
17
|
|
Tabel 3
|
Test
labolatorium tinja yang digunakan untuk mendeteksi enteropatogen
|
25
|
Diare dapat menyebabkan kematian nomer dua di dunia
(WHO, 2013).
Salah satu target MDGs
adalah menurunkan angka kematian pada anak, termasuk menurunkan angka kematian
yang diakibatkan oleh diare. Jika pencegahan diare tidak dilakukan dengan cepat
dan berkelanjutan, maka kemungkinan sebanyak 760.000 anak akan meninggal setiap
tahunnya. Tetapi jika penanganan diare dilakukan dengan cepat dan tepat, maka
jumlah kematian akan menurun setiap tahunnya. 1
Penyakit diare merupakan angka kematian yang tinggi
di Negara berkembang. Kurang lebih 10 juta anak usia kurang dari 5 tahun
meninggal setiap tahunnya di dunia dan sekitar 20% meninggal karena infeksi
diare (Hardi, 2012).1
Diare akut merupakan penyakit di indonesia yang
masih sangat tinggi.
Dengan penderita
terbanyak adalah bayi dan balita. Dari hasil riset kesehatan dasar yang
dilakukan oleh kementrian kesehatan pada tahun 2007, diare akut merupakan
penyebab kematian bayi (31,4%) balita (25,2%).1
Diare seringkali dianggap penyakit yang biasa dan sering
dianggap sepele penanganannya. Pada kenyataannya diare dapat menyebabkan
gangguan sistem ataupun komplikasi yang sangat membahayakan bagi penderita.
Beberapa diantaranya adalah gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit, shock
hipovolemia, gangguan berbagai organ tubuh dan bila tidak tertangani dengan
baik dapat menyebabkan kematian. Hal penting bagi perawat untuk mengetahui
lebih lanjut tentang diare, dampak negatif yang ditimbulkan, serta upaya
penanganan dan pencegahan komplikasinya.
Diare adalah penyakit yang disebabkan oleh
infeksi mikroorganisme termasuk bakteri, virus dan parasit lainnya seperti
jamur, cacing dan protozoa. Salah satu bakteri penyebab diare adalah bakteri
Escherichia Coli Enteropatogenik (EPEC). Budiarti (1997) melaporkan bahwa sekitar
55% anak-anak di Indonesia terkena diare akibat infeksi EPEC. Gejala klinis
diare yang disebabkan infeksi EPEC adalah diare yang berair sangat banyak yang
disertai muntah dan badan sedikit demam.
Diare adalah penyakit yang
ditandai dengan bertambahnya frekuensi berak lebih dari biasanya ( 3 atau lebih
per hari ) yang disertai perubahan bentuk dan konsistensi tinja dari penderita.
Secara klinis penyebab diare dapat dikelompokkan dalam
golongan 6 besar yaitu karena Infeksi, malabsorbsi, alergi, keracunan, immuno
defisiensi, dan penyebab lain, tetapi yang sering ditemukan di lapangan ataupun
klinis adalah diare yang disebabkan infeksi dan keracunan. Adapun
penyebab-penyebab tersebut sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor misalnya
keadaan gizi, kebiasaan atau perilaku, sanitasi lingkungan, dan sebagainya.
Diare masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia,
demikian juga di Jawa Tengah kasus diare masih tinggi, terutama pada anak-anak.
Pada tahun 2015 kasus diare di wilayah kerja puskesmas Kedungmundu Semarang
mencapai 1.523 kasus dengan 250 kasus (17%) yang terjadi pada anak usia 5-14
tahun. Kelompok usia tersebut merupakan kelompok usia anak sekolah dasar.
Mencuci tangan secara tepat dengan menggunakan sabun dapat mengurangi risiko
penyakit diare sebesar 42 sampai 47 %.2
Menurut WHO pada tahun 2011 diare merupakan penyebab
kematian nomor 3 di dunia pada anak dibawah umur 5 tahun, dengan Proportional
Mortality Rate (PMR) 1,7% setelah kematian neonatal 37% dan pneumonia 19%. Pada
tahun yang sama, diare di asia tenggara juga menempati urutan nomor tiga
penyebab kematian pada anak di bawah umur 5 tahun dengan PMR sebesar 18% 3
Di Sulawesi tenggara jumlah perkiraan kasus diare
tertinggi berada dikabupaten Kolaka dengan jumlah perkiraan 13.958 kasus dan
diare yang ditangani yaitu 49.16%. dan
jumlah kasus tertinggi kedua berada dikota kendari dengan jumlah perkiraan
12.510 kasus, diare yang ditangani 49.75
%. Sementara urutan ketiga berada di kabupaten muna dengan jumlah 11.547 kasus,
dengan diare yang ditangani 18.81 %. 4
Pemukiman kumuh kawasan yang menjadi
tempat berkembangnya diare. Padahal diperkotaan seperti Jakarta, kawasan kumuh
terus berkembang, karena semakin mahal dan terbatasnya lahan yang tersedia
untuk pemukiman. Tidak teratur, kondisi ventilasinya buruk, dan sanitasi
lingkungan tidak terlalu baik merupakan cirri pemukiman kumuh.
Lingkungan
yang buruk disertai rendahnya tingkat kesadaran masyarakat untuk berperilaku
sehat menjadikan kawasan kumuh sebagai kawasan yang rawan akan penyebaran
penyakit. Lingkungan yang buruk menjadi penyebab berkembangbiaknya berbagai
virus penyakit menular. Karena itu berbagai infeksi penyakit sering terjadi
pada para penghuni kawasan kumuh. Penyakit menular yang sering dijumpai adalah
diare, diikuti dengan penyakit infeksi lainnya seperti thypoid, ispa, penyakit
kulit, campak, demam berdarah(DBD) (AstutiMSA,2002). Kelangkaan air bersih
menjadi sebab utama pemicu penyakit ini. Gaya hidup yang jorok, tidak
memperhatikan sanitasi menyebabkan usus rentan terhadap serangan virus diare.
Kebijakan
keselamatan pasien merupakan suatu sistem yang dilakukan terutama oleh perawat
dengan tujuan agar dalam pelaksanaan pemberian asuhan keperawatan kepada pasien
akan lebih aman, meliputi asesmen resiko,identifikasi dan pengelolaan resiko
pasien, serta implementasi solusi untuk mengurangi terjadinya resiko dan
mencegah timbulnya cedera yang disebabkan oleh kesalahan atau kelalaian oleh
perawat dalam melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang
tepat.
1.
Mahasiswa pengetahui proses
terjadinya penyakit diare
2. Mahasiswa
mengetahui cara mencegah diare
3. Mahasiswa
mampu merumuskan rencana asuhan keperawatan pada penyakit diare
1. Bagi
mahasiswa, makalah ini dapat dijadikan sebagai bahan reverensi untuk materi
kasus penyakit diare
2. Bagi
ilmu pengetahuan keperawatan, makalah ini dapat dijadikan sebagai update
reverensi mengenai kasus penyakit diare
3. Dan
bagi masyarakat, makalah ini dapat memberikan edukasi kepada masyarakat tentang
penyakit diare.
Diare adalah suatu kondisi dimana seseorang buang
air besar dengan konsistensi lembek atau cair, bahkan dapat berupa air saja dan
frekuensinya lebih sering ( biasanya tiga kali atau lebih ) dalam satu hari .1
Jadi dapat diartikan
suatu kondisi, buang air besar yang tidak nomal yaitu lebih dari tiga kali
sehari dengan konsistensi tinja yang encer dapat disertai atau tanpa disertai
darah atau lendir sebagai akibat dari terjadinya proses inflamasi pada lambung
atau usus .1
Diare adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi
mikroorganisme termasuk bakteri, virus dan parasit lainnya seperti jamur,
cacing dan protozoa. Salah satu bakteri penyebab diare adalah bakteri
Escherichia Coli Enteropatogenik (EPEC). Budiarti (1997) melaporkan bahwa
sekitar 55% anak-anak di Indonesia terkena diare akibat infeksi EPEC. Gejala
klinis diare yang disebabkan infeksi EPEC adalah diare yang berair sangat
banyak yang disertai muntah dan badan sedikit demam.
Diare adalah penyakit yang
ditandai dengan bertambahnya frekuensi berak lebih dari biasanya ( 3 atau lebih
per hari ) yang disertai perubahan bentuk dan konsistensi tinja dari penderita. Secara klinis penyebab diare dapat dikelompokkan dalam golongan 6
besar yaitu karena Infeksi, malabsorbsi, alergi, keracunan, immuno defisiensi,
dan penyebab lain, tetapi yang sering ditemukan di lapangan ataupun klinis
adalah diare yang disebabkan infeksi dan keracunan. Adapun penyebab-penyebab
tersebut sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor misalnya keadaan gizi,
kebiasaan atau perilaku, sanitasi lingkungan, dan sebagainya.
1. Infeksi
Bakteri
Beberapa
jenis bakteri dapat termakan melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi
dan menyebabkan diare, 1
a.
Aeromonas
b.
Bacillus
cereus
c.
Campylobacter
d.
Clostridium
perfringens
e.
Clostridium
defficile
f.
Escherichia
coli
g.
Plesiomonas
shigeloides
h.
Salmonella
i.
Shigella
j.
Staphylococcus
aureus
k.
Vibrio
cholera
l.
Vibrio
parahaemolyticus
m.
Yersinia
enterocolitica1
2. Infeksi
virus
Beberapa virus yang menyebabkan diare yaitu
a.
Astrovirus
b.
Calcivirus
(Notovirus, Sapovirus)
c.
Enteric
adenovirus
d.
Corona
virus
e.
Rota
virus
f.
Norwalk
virus1
3. Faktor
makanan
Diare dapat terjadi karena mengkonsumsi makanan basi, beracun
dan alergi terhadap jenis makanan tertentu.1 Contohnya pada orang yang
tidak dapat mencerna komponen makanan seperti laktosa ( gula dalam susu).
4. Reaksi
obat
Contoh antibiotic, obat-obat tekanan darah, dan antasida yang
mengandung magnesium.
5. Parasit
Parasit yang masuk ke
dalam tubuh melalui makanan atau minuman dan menetap dalam sistem pencernaan.
Contohnya Penyakit intestinal
Berikut golongan parasit :
a.
Balantidium
coli
b.
Blastocytis
homonis
c.
Cryptosporidium
parvum
d.
Entamoeba
histolitica
e.
Giardia
lamblia
f.
Isospora
belli
g.
Strongyloides
stercoralis
h.
Trichuris
trichiura1
Penyakit inflamasi usus atau penyakit abdominal. Gangguan
fungsi usus, seperti sindroma iritasi usus dimana usus tidak dapat bekerja
secara normal
Tabel 2.1 penyebab diare akut dan kronik pada bayi,
anak anak dan remaja . 5
|
Jenis Diare
|
bayi
|
Anak-anak
|
remaja
|
|
akut
|
Gastroenteritis
infeksi sistemik akibat
pemakaian antibiotik
|
Gastroenteritis keracunan
makanan
Infeksi sistemik
akibat
Pemakaian antibiotik
|
Gastroenteritis keracunan
makanan akibat pemakaian antibiotik
|
|
kronik
|
Pascainfeksi defisiensi
disakaridase sekunder
Intoleransi proteinsusu
sindrom iritabilitas colon
fibrosis kistik penyakit seliakus sindrom usus pendek buatan
|
Pascainfeksi defisiensi disakaridase
sekunder sindrom iritabilitas kolon penyakit seliak intoleransi laktosa
giardiasis
|
Penyakit radang usus
intoleransi laktosa giardiasis penyalahgunaan laksatif (anoreksia nervosa)
|
Rotavirus merupakan etiologi paling penting yang
menyebabkan diare pada anak dan balita. Infeksi Rotavirus biasanya terdapat
pada anak-anak umur 6 bulan–2 tahun (Suharyono, 2008). Infeksi Rotavirus
menyebabkan sebagian besar perawatan rumah sakit karena diare berat pada
anak-anak kecil dan merupakan infeksi nosokomial yang signifikan oleh
mikroorganisme patogen. Salmonella, Shigella dan Campylobacter
merupakan bakteri patogen yang paling sering diisolasi. Mikroorganisme Giardia
lamblia dan Cryptosporidium merupakan parasit yang paling sering menimbulkan
diare infeksius akut (Wong dkk., 2009). Selain Rotavirus, telah ditemukan juga
virus baru yaitu Norwalk virus. Virus ini lebih banyak kasus pada orang dewasa
dibandingkan anak-anak (Suharyono, 2008). Kebanyakan mikroorganisme penyebab
diare disebarluaskankan lewat jalur fekal-oral melalui makanan, air yang
terkontaminasi atau ditularkan antar manusia dengan kontak yang erat.5
Gejala diare atau mencret adalah
tinja yang encer dengan frekuensi 4 kali atau lebih dalam sehari, yang kadang
disertai muntah, badan lesu atau lemah, panas,
tidak nafsu makan, darah dan lendir dalam kotoran.
Rasa mual dan muntah-muntah dapat
mendahului diare yang disebabkan oleh infeksi virus. Infeksi bisa secara
tiba-tiba menyebabkan diare, muntah, tinja berdarah, demam, penurunan nafsu
makan atau kelesuan. Selain itu, dapat pula mengalami sakit perut dan kejang
perut, serta gejala- gejala lain seperti flu misalnya agak demam, nyeri otot
atau kejang, dan sakit kepala. Gangguan bakteri dan parasit kadang-kadang
menyebabkan tinja mengandung darah atau demam tinggi.Beberapa tanda dan gejala
tentang diare menurut Suariadi :6
1. Sering
BAB dengan konsistensi tinja cair atau encer.
2. Terdapat
luka tanda dan gejala dehidrasi, turgor kulit jelek (elastisitas kulit menurun)
ubun-ubun dan mata cekung, membrane mukosa kering.
3. Kram
abnormal.
4. Demam.
5. Mual dan
muntah
6. Anoreksia.
7. Lemah.
8. Pucat.,
Perubahan TTV, nadi dan pernafasan cepat, dan tidak ada pengeluaran urin
Diare akut karena infeksi dapat disertai muntah-muntah,
demam, tenesmus, hematoschezia, nyeri perut dan atau kejang perut. Akibat
paling fatal dari diare yang berlangsung lama tanpa rehidrasi yang adekuat
adalah kematian akibat dehidrasi yang menimbulkan renjatan hipovolemik atau
gangguan biokimiawi berupa asidosis metabolik yang berlanjut. Seseoran yang
kekurangan cairan akan merasa haus, berat badan berkurang, mata cekung, lidah
kering, tulang pipi tampak lebih menonjol, turgor kulit menurun serta suara
menjadi serak. Keluhan dan gejala ini disebabkan oleh deplesi air yang isotonik.
Karena kehilangan bikarbonat (HCO3) maka
perbandingannya dengan asam karbonat
berkurang mengakibatkan penurunan pH darah yang merangsang pusat pernapasan sehingga frekuensi pernapasan
meningkat dan lebih dalam (pernapasan
Kussmaul)
Gambar table 2.2 Gejala khas
diare akut oleh berbagai penyebab
|
Gejala
klinik
|
rotavirus
|
shigella
|
salmonella
|
ETEC
|
EIEC
|
kolera
|
|
Masa tunas
|
17-72 jam
|
24-48 jam
|
6-72 jam
|
6-72 jam
|
6-72 jam
|
48-72 jam
|
|
panas
|
+
|
+ +
|
+ +
|
-
|
+ +
|
-
|
|
Mual
muntah
|
sering
|
jarang
|
sering
|
+
|
-
|
sering
|
|
Nyeri perut
|
tenesmus
|
Tenesmus kramp
|
Tenesmus kolik
|
-
|
Tenesmus kramp
|
_
|
|
Nyeri kepala
|
-
|
+
|
+
|
-
|
-
|
-
|
|
Lamanya sakit
|
5-7 hari
|
>7 hari
|
3-7 hari
|
2-3 hari
|
variasi
|
3 hari
|
|
Volume
|
sedang
|
sedikit
|
sedikit
|
banyak
|
sedikit
|
banyak
|
|
Frekuensi
|
5-10x/hr
|
>10x/hr
|
sering
|
sering
|
sering
|
sering
|
|
Konsistensi
|
cair
|
lembek
|
lembek
|
cair
|
Lembek
|
cair
|
|
Darah
|
-
|
sering
|
kadang
|
-
|
+
|
-
|
|
Bau
|
langu
|
±
|
busuk
|
+
|
tidak
|
Amis khas
|
|
warna
|
Kuning
hijau
|
Merah
hijau
|
kehijauan
|
Tak berwarna
|
Merah
hijau
|
Seperti air
Cucian beras
|
|
leukosit
|
-
|
+
|
+
|
-
|
-
|
-
|
|
Lain-lain
|
anoreksia
|
Kejang
Demam ±
|
Sepsis ±
|
meteorismus
|
Infeksi
sistemik
|
±
|
Gangguan
kardiovaskuler pada tahap hipovolemik yang berat dapat berupa renjatan dengan tanda-tanda denyut nadi cepat (>
120 x/menit), tekanan darah menurun
sampai tidak terukur. Pasien mulai gelisah, muka pucat, akral dingin dan kadang-kadang sianosis. Karena kekurangan
kalium pada diare akut juga
dapat timbul aritmia jantung. Penurunan tekanan darah akan menyebabkan perfusi ginjal menurun sampai timbul
oliguria/anuria. Bila keadaan
ini tidak segera diatsi akan timbul penyulit nekrosis tubulus ginjal akut yang berarti suatu
keadaan gagal ginjal akut.
1. Diare
akut
Diare yang disebabkan oleh
virus yang disebut Rotavirus yang ditandai dengan buang air besar lembek/cair
bahkan dapat berupa air saja yang frekuensinya biasanya (3 kali atau lebih
dalam sehari) dan berlangsung kurang dari 14 hari. Diare rotavirus ini
merupakan virus usus patogen yang menduduki urutan pertama sebagai penyebab
diare akut pada anak.1
2. Diare
bermasalah
Diare yang disebabkan oleh
infeksi virus, bakteri, parasit, intoleransi laktosa, engan alat rumah tangga.
diare ini umumnya diawali oleh diare cair kemudian pada hari kedualergi protein
susu sapi. Penularan secara fecal- oral, kontak dari orang ke orang atau kontak
orang da atau ketiga bar muncul darah, dengan maupun tanpa lendir, sakit perut
yang diikuti munculnya tenesmus panas disertai hilangnya nafsu makan dan badan
terasa lemah.
3. Diare
persisten
Diare akut yang menetap,
dimana titik sentral patogenesis diare persisten adalah kerusakan mukosa usus.
penyebab diare persisten sama dengan diare akut.
Penyakit
ini dapat terjadi karena kontak dengan tinja yang terinfeksi secara langsung,
seperti:
1. Makan dan minuman yang sudah
terkontaminasi, baik yang sudah dicemari oleh serangga atau terkontaminasi oleh
tangan kotor.
2. Bermain dengan mainan terkontaminasi
apalagi pada bayi sering memasukkan tangan/mainan/apapun kedalam mulut. Karena
virus ini dapat bertahan dipermukaan udara sampai beberapa hari.
3. Penggunaan sumber air yang sudah
tercemar dan tidak memasak air dengan air yang benar.
4. Tidak mencuci tangan dengan bersih
setelah selesai buang air besar.
Penyebab gastroenteritis akut adalah masuknya
virus (Rotravirus, Adenovirus
enteris, VirusNorwalk), Bakteri atau toksin (Compylobacter,Salmonella, Escherihia Coli,
Yersinia dan lainnya), parasit (Biardia Lambia, Cryptosporidium). Beberapa
mikroorganisme patogen ini menyebabkan Infeksi
pada sel-sel, memproduksi enterotoksin atau Cytotoksin dimana merusak sel-sel, atau melekat pada dinding
usus pada gastroenteritis akut.
Mekanisme dasar penyebab
timbulnya diare adalah adanya peningkatan
bising usus dan sekresi isi usus sebagai upaya tubuh untuk mengeluarkan agen iritasi atau agen
infeksi. Selain itu menimbulkan gangguan
sekresi akibat toksin di dinding usus, sehingga sekresi air dan elektrolit meningkat kemudian terjadi diare
dan absorpsi air serta elektrolit terganggu.
Sebagai homeostasis tubuh, sebagai akibat dari masuknya agen pengiritasi pada kolon, maka ada upaya untuk
segera mengeluarkan agen tersebut.
Sehingga kolon memproduksi mukus dan HCO3 yang berlebihan yang berefek pada gangguan mutilitas usus
yang mengakibatkan hiperperistaltik
dan hipoperistaltik. Akibat dari diare itu sendiri adalah kehilangan air dan elektrolit (dehidrasi)
yang mengakibatkan gangguan asam basa,
gangguan gizi, dan gangguan sirkulasi darah.
Proses terjadinya gastroenteritis dapat
disebabkan oleh berbagai kemungkinan
faktor diantaranya :
1. Faktor infeksi, proses ini
dapat diawali adanya mikroorganime (kuman)yang masuk ke dalam saluran
pencernaan yang kemudian berkembang dalam usus dan merusak sel mukosa usus yang
dapat menurunkan daerahpermukaan usus. Selanjutnya terjadi perubahan kapasitas
usus yangakhirnya mengakibatkan gangguan fungsi usus dalam absorbsi cairan
danelektrolit. Atau juga dikatakan adanya toksin bakteri akan menyebabkansystem
transport aktif dalam usus halus, sel di dalam mukosa intestinalmengalami
iritasi dan meningkatnya cairan dan elekrtolit.Mikroorganisme yang masuk akan
merusak sel mukosa intestinalsehingga menurunkan area permukaan intestinal,
perubahan kapasitasintestinal dan terjadi gangguan absorbsi cairan dan
elektrolit.6
2. Faktor malabsorbsi merupakan
kegagalan dalam melakukan absorbsiyang mengakibatkan tekanan osmotic meningkat
sehingga terjadipergeseran air dan eletrolit ke ronga usus yang dapat meningkatkan
isirongga usus sehingga terjadilah Gastroenteritis.
3. Faktor makanan ini dapat
terjadi apabila toksin yang ada tidak mampudiserap dengan baik. Sehingga
terjadi peningkatan peristaltic usus yangmengakibatkan penurunan kesempatan
untuk menyerap makanan yangkemudian menyebabkan Gastroenteritis.
4. Faktor psikologi dapat
mempengaruhi terjadinya peningkatan peristalticusus yang akhirnya mempengaruhi
proses penyerapan makanan yangdapat mnyebabkan Gastroenteritis (Hidayat Azis,
2006).
G.
Komplikasi
1. Dehidrasi (ringan, sedang, berat,
hipotonik,isotonik atau hipertonik)
2. Kejang terutama pada dehidrasi
hipertonik.
3. Mal nutrisi energi ,protein, karena
selain diare dan muntah, penderita juga mengalami kelaparan
4. Renjatan atau syok hipovolemik.
5. Gangguan elektrolit
a. Hipernatremia Penderita diare dengan
natrium plasma > 150 mmol/L memerlukan pemantauan berkala yang ketat.
Tujuannya adalah menurunkan kadar natrium secara perlahan-lahan. Penurunan
kadar natrium plasma yang cepat sangat berbahaya oleh krena dapat menimbulkan
edema otak. Rehidrasi oral atau nasogastrik menggunakan oralit adalah cara
terbaik dan paling aman.1
b. Hiponatremia Anak dengan diare yang
hanya minum dengan air putih atau cairan yang hanya mengandung sedikit garam,
dapat terjadi hiponatremi (Na< 130 mol/L).1
c. Hiperkalemia Disebut hiperkalemia
jika K > 5 mEq/L, koreksi dilakukan dengan pemberian kalsium glikonas 10%
0,5 -1 ml/kgBB i.v. pelan - pelan dalam 5-10 menit dengan monitor detak
jantung.1
d. Hipokalemia Dikatakan hipokalemia
bila K < 3.5 mEq/L, koreksi dilakukan
e. menurut kadar K jika kalium 2,5
mEq/L diberikan peroral 75 mcg/kgBB/hr dibagi 3 dosis. Bila <2,5 Diberikan
secara intravena drip (tidak boleh bolus) diberikan selama 4 jam. Dosisnya:
(3,5- kadar K terukur x BB x 0,4 + 2 mEq/kgBB/24jam) diberikan dalam 4 jam,
kemudian 20 jam berikutnya adalah (3,5- kadar K terukur x BB x 0,4 + 1/6 x 2
mEq/kgBB).1
Diagnosis ditegakkan berdasarkan
gejala dan hasil pemeriksaan fisik :
1. Pemeriksaan tinja
a. Makroskopis dan mikroskopis
Pemeriksaan makroskopis
Pemeriksaan makroskopik tinja perlu
dilakukan pada semua penderita dengan diare.meskipun pemeriksaan laboratorium
tidak dilakukan. Tinja yang watery dan tanpa mukus atau darah biasanya
disebabkan oleh enterotoksin virus, protozoa atau disebabkan oleh infeksi
diluar saluran gastrointestinal.1
Tinja
yang mengandung darah atau mukus bisa disebabkan infeksi atau bakteri yang
menghasilkan sitotoksin, bakteri enteroinvasif yang menyebabkan peradangan
mukosa atau parasit usus seperti : E.histolytica,B.coli dan T.trichiura.Apabila
terdapat darah biasanya bercampur dalam tinja kecuali pada infeksi
E.histolytica darah sering terdapat pada permukaan tinja dan pada infeksi EHEC
terdapat garis- garis darah pada tinja .Tinja yang berbau busuk didpatkan pada
infeksi dengan salmonella , giardia cryposporidium dan strongiloides.1
Selain
itu juga melihat hasil leukosit juga dapat menentukan penyebab dari diare.
Shohibaturrohmah, (2016) Leukosit mempertahankan tubuh dari serangan penyakit
dengan cara memakan (fagositosis) penyakit tersebut. Begitu tubuh mendeteksi
adanya infeksi maka sumsum tulang akan memproduksi lebih banyak sel-sel darah
putih untuk melawan infeksi.1
Gambar tabel 2.3 Test labolatorium
tinja yang digunakan untuk mendeteksi enteropatogen
|
Test
laboratorium
Mikroskopik
: lekosit pada tinja
|
Organism
atau identifikasi
Invasive
atau bakteri yang memproduksi sitotoksin
|
|
Trophozoit, kista, oocysts, spora
|
G. lambilia, E histolytica, cryptospsoridium. I belli
cylopspora
|
|
Rhabditiform lava
Spiral atau basil gram (-)
berbentuk s
Kuntur tinja : standar
Kultur tinja : spesial
|
Stongyloides
Campylobacter
jejuni
E. coli
shigella salmonella, campylobacter jejuni
y,
entero colitica, V cholera v.
parahaemolyticus, C. Difficile, E coli, 0 157 : H7
|
|
Enzym imunoassi atau latex
aglutinasi
Serotyping
Latex aglutinasi setelah broth
Test yang dilakukan dilaboratorium
riset
|
Rotavirus, G. lambilia, enteric adenovirus C, difficile
E.colli O 157 : H7, EHEC,EPEC
Salmonella, shigella
Bakteri yang memproduksi toksin,
EIEC, EAEC,PCR untuk genus yang
virulen
|
Pemeriksaan
mikroskopis
Pemeriksaan mikroskopik
untuk mencari adanya lekosit dapat memberi informasi
tentang penyebab diarre, letak anatomis serta adanya proses peradangan mukosa. Lekosit dalam tinja
diproduksi sebagai respon terhadap
bakteri yang mnyerang mukosa kolon. Lekosit yang positif ada pemeriksaan tinja yang menunjukkan adanya
kuman invasif atau kuman yang
memproduksi sitotoksin seperti shigella,salmonella,C.Jejuni, EIEC, C.Difficile,Y.enterocolitica,
V. Parahaemolyticus dan kemungkinan aeromonas
atau P.shigelloides.lekosit yang ditemukan pada umumnya adalah lekosit PMN, kecuali pada S. Typhii lekosit monokulear.
Tidak semua penderita kolitis terdapat
lekosit pada tinjanya, pasien yang terinfeksi
dengan E. Histolytica pada umunya lekosit pada tinja minimal.
Biopsi duodenum adalah
metoda yang spesifik dan sensitif untuk diagnosis
giardiasis, strongylodiasis dan protozoa yang membentuk spora E. Hystolitica dapat didiagnosis
dengan pemeriksaan mikroskopik tinja segar.
Trophozoit biasanya ditemukan pada tinja cair sedangkan kista ditemukan pada tinja yang berbentuk.
Tehnik konsentrasi dapat membantu untuk
menemukan kista amuba. Pemeriksaan serial mungkin diperlukan oleh karena ekskresi kista sering
menjadi intermiten. Sejumlah tes serologis
amubiasis untuk mendeteksi tipe dan sekresi antibodi juga tersedia. Serologis tes untuk amuba
hampir selalu positif pada disentri amuba
akut dan amubiasis hati.1
b. pH dan kadar gula dalm tinja
c. Bila perlu diadakan uji bakteri
untuk mengetahui organisme penyebabnya, dengan melakukan pembiakan terhadap
contoh tinja.
d. Pemeriksaan labolatorium :
1. Darah meliputi : darah lengkap,
serum elektrolit, analisa gas darah, glukosa darah, kultur dan tes kepekaan
terhadap antibiotika.
2. Urine: urine lengkap, kultur dan
test kepekaan terhadap antibiotika.
e. Pemeriksaan kadar ureum dan
kreatinin untuk mengetahui faal ginjal. f)
f. Pemeriksaan elektrolit intubasi
duodenum untuk mengetahui jasad renik atau parasit, secara kuantitatif,
terutama pada pnderita diare kronik1
1. Terapi
Departemen
Kesehatan menetapkan lima pilar penatalaksanaan diare
bagi
semua kasus diare yang diderita anak balita baik yang dirawat di rumah maupun
sedang dirawat di rumah sakit,yaitu:
a. Rehidrasi dengan menggunkan oralit
baru.
b. Zink diberikan selama 10 hari
berturut-turut. Zinc
Zinc mengurangi lama dan berat
diare. Zinc juga dapat
mengembalikan nafsu makan anak.
Pemberian zinc dapat menurunkan frekuensi dan volume buang air besar sehingga
dapat menurunkan risiko terjadinya dehidrasi pada anak.
Dosis zinc pada anak: Anak di bawah
umur 6 bulan : 10 mg(1/2 tablet) per hari Anak di atas umur 6 bulan : 20 mg(1
tablet)per hari Zinc diberikan selama 10-14 hari berturut-turut meskipun anak
telah sembuh dari diare.1
Untuk bayi, tablet zinc dapat
dilarutakn pada air matang, ASI, atau
oralit.Untuk anak-anak yang lebih
besar, zinc dapat dikunyah atau dilarutkan dalam air matang atau oralit.1
c. ASI dan makanan tetap diteruskan.
sesuai
umur anak dengan menu yang sama pada waktu yang sehat untuk mencegah kehilangan
berat badan serta mengganti nutrisi yang hilang.Pada diare berdarah mafsu makan
akan berkurang.Adanya perbaikan nafsu makan menandakan fase kesembuhan.1
Kolostrum
atau ASI mengandung zat kekebalan tubuh terutama ig A untuk melindungi bayi
dari berbagai jenis penyakit infeksi terutama diare, segi aspek imunologik ASI
mengandung zat anti infeksi yang kadarnya cukup tinggi, sektori ig A tidak
dapat diserap tapi dapat melumpuhkan bakeri patogen E.Coli dan berbagai virus
terutama di saluran cerna.Laktoferin yaitu sejenis protein yang merupakan
komponen zat kekebalan yang mengikat zat besi di saluran pencernaan. Faktor
bifidus, sejenis karbohidrat yang mengandung nitrogen, menunjang pertumbuhan
bakteri lactobacillus bifidus. Bakteri ini menjaga keasaman flora usus bayi dan
berguna untuk menghambat pertumbuhan bakteri yang merugikan.1
ASI
turut memberikan perlindungan terhadap diare, pemberian ASI kepada bayi yang
abru lahir secara penuh mempunyai daya lindung empat kali lebih besar terhadap
diare dari pada pemberian ASI yang disertai dengan susu botol. Pada bayi yang
tidak diberi ASI pada 6 bulan pertama kehidupannya, resiko mendapatkan diare
adalah 30 kali lebih besar dibanding dengan bayi yang tidak diberi ASI. Bayi
yang memperoleh ASI mempunyai morbiditas dan mortalitas diare lebih rendah.
Bayi dengan air susu buatan (ASB) mempunyai resiko lebih tinggi dibanding
dengan bayi yang mendapat susus tambahan juga mendapat ASI, dan keduanya
mempunyai risiko diare lebih tinggi dibanding dengan bayi yang sepenuhnya
mendapatkan ASI. Risiko relatif ini tinggi dalam bulan- bulan pertama
kehidupan.1
d. Antibiotik selektif
Antibiotik jangan diberikankecuali
ada indikasi misalnya diare
berdarah atau kolera.
e. Nasihat kepada orang tua.
Nasehat pada ibu atau pengasuh :
kembali jika demam, tinja
berdarah, berulang makan atau minum
sedikit, sangat haus, diare makin sering, atau belum membaik dalam 3 hari.
Terapi menurut derajat dehidrasi :
1.) Pada anak yang mengalami diare tanpa
dehidrasi (kekurangan cairan). Tindakan: Untuk mencegahdehidrasi,beri anak
minum lebih dari biasanya. ASI (Air Susu Ibu) diteruskan – makanan diberikan
seperti biasanya. Bila keadaan ank bertambah berat, segera bawa ke puskesmas
terdekat.1
2.) Pada anak yang mengalami diare
dengan dehidrasi ringan atau sedang. Tindakan:
Berikan oralit, ASI (Air susu ibu)
diteruskan, Teruskan pemberian makanan, Sebaiknya yang lunak, mudah dicerna dan
tidak merangsang, Bila tidak ada perubahan segera bawa ke puskesmas terdekat,
3.) Pada anak yang mengalami dehidrasi
berat.
Segera bawa ke rumah sakit /
puskesmas dengan fasilitas perawatan. Oralit dan ASI diteruskan selama masih bisa minum.
Upaya pencegahan diare dapat
dilakukan dengan cara:
1. Mencegah penyebaran kuman patogen
penyebab diare Kuman-kuman patogen penyebab diare umumnya disebarkan secara
fekal-oral. Pemutusan penyebaran kuman penyebab diare perlu difokuskan pada
cara penyebaran ini. Upaya
penyegahan diare yang terbukti efektif meliputi:
a).
Pemberian ASI yang benar.
b).
Memperbaiki penyiapan dan penyimpanan makanan pendamping ASI.
c).
Penggunaan air bersih yang cukup.
d).
Membudayakan kebiasaan mencuci tangan dengan sabun sehabis buang air besar dan sebelum makan.
e).
Penggunaan jamban yang bersih dan higienis oleh seluruh anggota keluarga.
f).
Membuang tinja bayi yang benar.
2. Memperbaiki daya tahan tubuh pejamu(
host) Cara-cara yang dapat dilakukan untuk menngkatkan daya tahan tubuh anak
dan dapat mengurangi resiko diare antara lain:
a).
Memberi ASI paling tidak usia 2 tahun.
b).
Meningkatkan nilai gizi makanan pendamping ASI dan memberi makanan dalam jumlah yang cukup untuk memperbaiki status
gizi anak.
c).
Imunisasi campak. Akhir-akhir ini banyak diteliti tentang peranan probiotik dan prebiotik dalam pencegahan
diare.1
pengkajian adalah upaya
mengumpulkan data secara lengkap dan sistematis untuk dikaji dan dianalisis
sehingga masalah kesehatan dan keperawatan yang dihadapi pasien baik fisik,
,mental, sosial, maupun spiritual dapat ditentukan .1
1.
Identitas
klien
Tanggal pengkajian : Identitas
penanggung jawab :
Tanggl MRS : Nama :
No. RM : usia :
Nama : pendidikan :
Umur : pekerjaan :
Jenis kelamin : agama :
Alamat : alamat :
Diagnosa medis : hubungankeluarga
:
2.
Keluhan
utama : Diare / lebih dari biasanya
3.
Riwayat
penyakit sekarang
Terdapat beberapa keluhan, pemulaan mendadak disertai dengan
muntah dan feses dengan volume yang banyak, konsistensi cair, muntah ringan
atau sering dan gelisah, suhu tubuh biasanya meningkat dan nafsu makan menurun.1
4.
Riwayat
penyakit dahulu Sebelumnya
5.
Riwayat
perkembangan anak
6.
Riwayat
persalinan
7.
Imunisasi
8.
Lingkungan
rumah dan komunitas
9.
Pola
fungsional kesehatan
a. Pola nutrisi dan metabolic
b. Pola eliminasi : Pada
c. Pola aktifitas :
d. Personal hygiene: mengalami gangguan
karena sering BAB
10. Pemeriksaan fisik
a. Keadaan umum klien : klien lemah,
panas, muntah dan diare, composmentis
b. Pemeriksaan TTV
1.
Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan
cairan sekunder terhadap diare Kode : D.00027
2.
Difisiensi
pengetahuan berhubungan dengan kurangnya sumber pengetahuan Kode :. D.00126 .
Kriteria hasil
1. kekurangan volume
cairan berhubungan dengan kehilangan cairan sekunder terhadap diare Kode : D.00027
Tingkat ketidaknyamanan (2109)
Dengan kriteria hasil :
a. muntah
b. mual
c. diare
2.
difisiensi pengetahuan berhubungan dengan kurangnya sumber pengetahuan Kode
: D.00126 .
Pengetahuan proses penyakit (1803)
Dengan kriteria hasil :
a. tanda dan gejala komplikasi penyakit
b. manfaat manajemen penyakit
c. faktor resiko
1. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan
cairan sekunder terhadap diare
Manajemen
elektrolit/cairan (2080)
a.
berikan cairan yang sesuai
b.
berikan serat yang diresepkan untuk pasien dengan selang makan, untuk
mengurangi kehilangan cairan dan elektrolit melalui diare.
c.
timbang berat badan harian dan pantau gejala
d.
monitor tanda-tanda vital yang sesuai
e.
pantau adanya tanda dan gejala retensi cairan
2.
Difisiensi
pengetahuan berhubungan dengan kurangnya sumber pengetahuan
Pendidikan
kesehatan (5510)
1.
tentukan pengetahuan kesehatan dan gaya hidup perilaku saat ini pada individu,
keluarga dan kelompok sasaran.
2.
bantu individu keluarga, dan masyarakat untuk memperjelas keyakinan dan nilai-nilai
kesehatan
3.
ajarkan strategi yang dapat digunakan untuk menolak perilaku yang tidak sehat
atau beresiko dari pada memberikan saran untuk menghindari atau mengubah
perilaku.
BAB III
Contoh kasus
seorang ibu membawa anaknya ke rumah sakit yang
berusia 8 bulan,dengan keluhan Ibu
klien mengatakan sebelum dibawa kerumah sakit kurang lebih 2 hari mengalami
mencret, dalam satu hari lebih dari 6x cair dan berlendir dan muntah selama dua
hari kurang lebih 5x. Pasien datang kerumah sakit dengan rujukan dari rumah
sakit wijaya kusuma dengan gangguan GEA dehidrasi dan vomitus dan disarankan
untuk di lakukan pemberian cairan serta dilakukan rawat inap. Saat di IGD
pasien di berikan cairan infus KAEN 32tpm, pasien muntah 1x saat setelah
diberikan ASI. BAB pasien saat di IGD sampai di bawa ke ruangan pasien baru di
ganti diapers sebanyak 4x dengan konsistensi cair dan berlendir, BAB dan BAK di
dalam diapers.
1.
Biodata
pasien
Nama
: An. A
Tanggal
lahir : 06 november 2016
Umur : 8 bulan 6 hari
Jenis
kelamin : perempuan
BB : 7,2 kg
PB/TB : 60 cm
Alamat : alian
Agama : islam
Pendidikan :
Suku
bangsa : Tolaki
Diagnosa : GEA dehidrasi sedang
Identitas penanggung jawab
Nama :
Ny. H
Umur : 24
th
Jenis kelamin :
perempuan
Pekerjaan ibu : rumah tangga
Hubungan : ibu
kandung
2.
Keluhan
utama : BAB cair dan berlendir.
3.
Riwayat
kesehatan
a. Riwayat kesehatan sekarang
Ibu klien mengatakan sebelum
dibawa kerumah sakit kurang lebih 2 hari mengalami mencret, dalam satu hari
lebih dari 6x cair dan berlendir dan muntah selama dua hari kurang lebih 5x.
Pasien datang kerumah sakit dengan rujukan dari rumah sakit wijaya kusuma dengan
gangguan GEA dehidrasi dan vomitus dan disarankan untuk di lakukan pemberian
cairan serta dilakukan rawat inap. Saat di IGD pasien di berikan cairan infus
KAEN 32tpm, pasien muntah 1x saat setelah diberikan ASI. BAB pasien saat di IGD
sampai di bawa ke ruangan pasien baru di ganti diapers sebanyak 4x dengan
konsistensi cair dan berlendir, BAB dan BAK di dalam diapers.
b. Riwayat kesehatam dahulu
Ibu klien mengatakan An. AL sebelumnya
belum pernah mengalami atau menderita diare dan baru kali ini dirawat dirumah
sakit karena penyakit diare.
c. Riwayat Kesehatan Keluarga
Saat
pengkajian diperoleh data bahwa anggota keluarga klien yaitu dari ibu pernah
mengalami penyakit diare kurang lebih 1 minggu yang lalu tetapi tidak sampai
dirawat dirumah sakit.
d. Riwayat imunusasi
Keluarga
mengatakan anak sudah mendapat imunisasi HB 0,BCG, DPT I,II,III, polio
I,II,III,IV, MMR.
e. Riwayat tumbuh kembang
Pertumbuhan : Berat badan saat ini 7,2 kg,
gigi klien sudah tumbuh depan dan bawah 4 di tambah samping atas 1 buah.
Perkembangan : Anak sudah bisa belajar tengkurap sendiri, dapat
menggeleng-gelengkan kepala, bisa memegang roti serta memasukanya sendiri, bisa
mengungkapkan rasa gembira atau sedihnya dengan berteriak dan lain-lain sesuai
pengkajian KPSP umur 6 bulan
f. Genogram
g. Kebutuhan cairan
Hasil
Penghitungan Balance Cairan An. AL mulai dari tanggal 12-14 Juli 2017
h. Kebutuhan kalori
Rumus :
BB x 100
: 7,2 x 100
:
720 kkal
i. Pola pengkajian Gordon
1). Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan
Keluarga klien mengatakan bahwa kesehatan sangatlah
penting khususnya An. AL karena masih balita. Saat mengetahui anaknya mengalami
mencret, muntah serta demam klien langsung dibawa ke dokter terdekat, kelurga juga
mengatakan saat membersihkan BAB pada klien yaitu dengan air hangat atau tissu
basah serta gerakan dimulai dari belakang kedepan.
2). Pola Nutrisi dan Metebolik
Sebelum sakit An. AL makan sesuai porsi yang
diberikan oleh ibunya 3x/hari selalu habis dan terkadang lebih, jenisnya nasi
yang dihaluskan, kuah sayuran,lauk dan ASI. Selama sakit An. AL rasa haus
meningkat, An. AL hanya mau minum ASI sehari kurang lebih 5x, serta air putih 3
botol dot ukuran 60 ml dan tidak nafsu makan.
3). Pola Eliminasi Sebelum sakit ibu pasien
mengatakan pasien BAB sehari kurang lebih 3x dengan konsistensi lembek warna
kuning bau khas, BAK sehari kurang lebih 5x dengan warna kuning bau khas. Saat
sakit Ibu klien mengatakan An. AL 2 hari SMRS mengalami diare kurang lebih 5x BAB
cair tidak bercampur darah, muntah pada hari 2 SMRS kurang lebih 3x. Saat
diruangan An. A BAB lebih dari 5x dengan konsistensi cair dan terdapat lendir
dan sudah ganti diapers selama 4x, dengan berat 500 c. Untuk BAK An. AL tidak
terkaji karena di pasang diapers.1
4). Pola Aktivitas dan Latihan Sebelum
5). Pola Istirahat
dan Tidur Sebelum
6). Pola Persepsi
dan Kognitif Klien
B.
Analisa Data
Nama : An.a
Diagnosa : GEA dehidrasi sedang
Umur :
8 bulan 6 hari
|
No
|
Data
|
etiologi
|
problem
|
|
1.
|
DS :
Ibu klien mengatakan An. A mencret ± 2
hari dan dalam satu hari mencret lebih dari 5 kali cair.
Saat dikaji pasien BAB sebanyak kurang
lebih 5x dengan konsistensi cair dan berlendir.
Ibu klien mengatakan anaknya sering
meminta minum ASI maupun air putih.
DO :
-Akral hanyat
-pasien sering rewel
-pasien terlihat lemas
-TTV : suhu : 37 0C. RR : 18 x/menit, Nadi : 99 x/menit.
|
Kehilangan cairan aktif
|
Kekurangan Volume cairan
|
|
2.
|
DS :
Keluarga mengatakan pengetahuan
tentang penyakit diare masih kurang, terutama pada penanganan saat dirumah,
tanda dan gejala serta penyebab dari penyakit diare.
DO :
Jawaban dari kuisioner yang diberikan
pada peneliti keluarga hanya mendapat skor 5 dari 14 pertanyaan.
kriteria kuisioner keluarga An. A
pengetahuan tentang penyakit diare masih sangat rendah.
|
Kurangnya sumber pengetahuan
|
Difisiensi pengetahuan
|
C. Diagnosa keperawatan
1. kekurangan
volume cairan b.d Kehilngan cairan
sekunder terhadap diare.
Kode : D.00028
2. difisiensi pengetahuan b.d kurangnya sumber pengatahuan
Kode : D.00126
Nama inisial : An.a diagnosa
medis : GEA dehidrasi sedang
Umur : 8 bulan 6 hari no.
register :
|
diagnosa
|
Tujuan
dan Kriteria hasil(NOC)
|
Intervensi
(NIC)
|
|
Domain
: 2 nutrisi
Kelas
: 5 hidrasi
Kode
: 00027
kekurangan
volume cairan b.d Kehilngan cairan sekunder terhadap diare.
Ditandai
dengan
DS
:
Ibu
klien mengatakan An. A mencret ± 2 hari dan dalam satu hari mencret lebih
dari 5 kali cair.
Saat
dikaji pasien BAB sebanyak kurang lebih 5x dengan konsistensi cair dan
berlendir.
Ibu
klien mengatakan anaknya sering meminta minum ASI maupun air putih.
DO
:
-Akral
hanyat
-pasien
sering rewel
-pasien
terlihat lemas
-TTV
: suhu : 37 0C. RR : 18 x/menit, Nadi : 99 x/menit.
|
Setelah
dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam/menit dapat diatasi sebagai
berikut :
Tingkat
ketidaknyaman (2109)
Dengan
kriteria hasil
(210928)
muntah skala 2 menjadi 5
(210929)
mual skala 2 menjadi 4
(210930)
diare skala 2 menjadi 4
|
Manajemen
elektrolit/cairan (2080)
1.
berikan cairan yang sesuai
2.
berikan serat yang diresepkan untuk pasien dengan selang makan untuk
mengurangi kehilangan cairan dan elektrolit melalui diare
3.
timbang berat badan harian dan pantau gejala
4.
monitor tanda-tanda vital
5.
pantau adanya tanda dan gejala retensi cairan
|
|
Domain
: 5
Kelas
: 4
Kode
: 00126
difisiensi
pengetahuan b.d kurangnya sumber pengetahuan
Ditandai
dengan :
Keluarga mengatakan pengetahuan
tentang penyakit diare masih kurang, terutama pada penanganan saat dirumah,
tanda dan gejala serta penyebab dari penyakit diare.
DO :
Jawaban dari kuisioner yang diberikan
pada peneliti keluarga hanya mendapat skor 5 dari 14 pertanyaan.
kriteria
kuisioner keluarga An. A pengetahuan tentang penyakit diare masih sangat
rendah.
|
Setelah
dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam/menit. Dapat di atasi sebagai
berikut
Defisiensi
pengetahuan b/d kurangnya sumber pengetahuan
Pengetahuan
proses penyakit (1803)
dengan
kriteria hasil sebagai berikut.
(180310)
tanda dan gejala komplikasi penyakit skala 2 menjadi skala 5
(180315)
manfaat manajemen penyakit sakal 2 menjadi skala 4
(180304)
faktor resiko skala 2 menjadi skala 5
|
Pendidikan
kesehatan (5510)
1.
tentukan pengetahuan kesehatan dan gaya hidup perilaku saat ini pada
individu, keluarga, atau kelompok sasaran.
2.
bantu individu, keluarga dan masyarakat untuk memperjelas keyakinan dan nilai
nilai kesehatan
3.
ajarkan strategi yang dapat digunakan untuk menolak perilaku yang tidak sehat
atau beresiko dari daripada memberikan saran untuk menghindari atau mengubah
perilaku
|
|
Hari/tanggal
|
Implementasi
|
Evaluasi
|
|
Senin
13 juni 2020
|
-melakukan pemeriksaan tanda-tanda
dehidrasi
-memberikan obat
paracetamol,ampicilin.
Melakukan pengukuran TTV pasien
-mencatat intake dan autput cairan
pada pasien.
-
|
S : ibu pasien mengatakan anaknya
sudah tidak mengalami diare, BAB berbentuk lembek.
O : sering minum
Keadaan pasien, terlihat lemas BAB
pasien dengan konsistensi lembek dan berbentuk ampas.
Suhu : 365C, RR: 23x /menit, Nadi : 99
x/menit
BC 97,8 cc/jam
A : intervensi belum teratasi
P : lanjutkan intervensi
|
|
Senin 13 juni 2020
|
-
Melakukan
penyuluhan tentang penyakit diare
|
S : Keluarga mengatakan pengetahuan
tentang penyakit diare bertambah terutama tentang penangan, tanda dan gejala
serta penyebab dari penyakit diare.
O :
- keluarga
pasien sudah di berikan penyuluhan tentang penyakit diare.
-keluarga pasien melakuan pengisian
kuisoner tentang penyakit diare
A. Masalah deficit keperawatan teratasi
P. intervensi dihentikan.
|
Diare adalah penyakit yang
disebabkan oleh infeksi mikroorganisme termasuk bakteri, virus dan parasit
lainnya seperti jamur, cacing dan protozoa. Salah satu bakteri penyebab diare
adalah bakteri Escherichia Coli Enteropatogenik (EPEC). Budiarti (1997)
melaporkan bahwa sekitar 55% anak-anak di Indonesia terkena diare akibat
infeksi EPEC. Gejala klinis diare yang disebabkan infeksi EPEC adalah diare
yang berair sangat banyak yang disertai muntah dan badan sedikit demam.
Diare seringkali dianggap penyakit
yang biasa dan sering dianggap sepele penanganannya. Pada kenyataannya diare
dapat menyebabkan gangguan sistem ataupun komplikasi yang sangat membahayakan
bagi penderita. Beberapa diantaranya adalah gangguan keseimbangan cairan dan
elektrolit, shock hipovolemia, gangguan berbagai organ tubuh dan bila tidak
tertangani dengan baik dapat menyebabkan kematian. Hal penting bagi perawat
untuk mengetahui lebih lanjut tentang diare, dampak negatif yang ditimbulkan,
serta upaya penanganan dan pencegahan komplikasinya.
Asuhan keperawatan pada makalah
ini seperti pada asuhan keperawatan yang lainya yang terdiri dari pengkajian,
diagnosa, intervensi, implementasi, dan evaluasi. Dan asuhan keperawatan pada
makalah ini dalam menentukan diagnosa, kriteria hasil, dan intervensi
menggunakan NANDA NIC NOC
1.
Bagi mahasiswa, asuhan keperawatan pada makalah ini dapat
dijadikan konsep dalam pembuatan asuhan
keperawatan yang update
2.
Makalah ini juga dapat dijadikan referensi untuk menambah
pengetahuan masyarakat tentang hipertensi
3.
Bagi ilmu keperawatan, makalah ini dapat juga dijadikan
salah satu referensi untuk menambah ilmu mengenai hipertensi
1. i gede wisnu
paramadita.______. Ekp. 2017;13(3):1576-1580.
2. Masyarakat JK.
Fakto Faktor Yang Berhubungan Dengan Perilaku Cuci Tangan Pakai Sabun.
Vol 4.; 2016.
3. Saputri N. H
UBUNGAN F AKTOR L INGKUNGAN D ENGAN K EJADIAN D IARE. J Ilmu Keperawatan dan
Kebidanan. 2019;10(1):101-110.
doi:http://dx.doi.org/10.26751/jikk.v10i1.619
4. Bab I.
PROVINSI SULAWESI TENGGARA TAHUN 2012. 2012.
5. Diare asuhan keperawatan. Hubungan Persepsi
Pendidikan. 2016:23-45.
6. Carpenito.
ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn. S DENGAN. 2000.
Komentar
Posting Komentar