Keperawatan maritim asuhan keperawatan luka bakar
DENGAN
LUKA BAKAR
Oleh
Kelompok II
ANANG
ASATIANA
AYU
ASTUTI
INDAYANTI
HUDIN
NOPERIALDA
ANGGRAENI S.
SURAMADHAN
SEKOLAH
TINGGI ILMU KESEHATAN
KARYA
KESEHATAN KENDARI
PRODI
S1 KEPERAWATAN
KENDARI
2020
DAFTAR
PUSTAKA
Contents
DAFTAR TABEL
Nomor
|
Judul
|
Halaman
|
Tabel 1.
|
Klasifikasi luka menurut kedalaman
|
5
|
Tabel 2.
|
Analisa data
|
21
|
Tabel 3.
|
Rencana asuhan keperawatan
|
25
|
Tabel 4.
|
Implementasi dan
evaluasi
|
26
|
DAFTAR
GAMBAR
Nomor
|
Judul
|
Halaman
|
Gambra 1.
|
Wallence rule of nine
|
6
|
Gambra 2.
|
Bagian-bagian kulit
|
8
|
Gambra 3.
|
Presentase etiologi
|
10
|
Gambra 4.
|
Area luka bakar
|
20
|
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
belakang
Luka bakar merupakan respon kulit dan jaringan
subkutan terhadap paparan yang berasal dari sumber panas, listrik, zat kimia,
dan radiasi(1). Luka bakar
adalah salah satu masalah kulit yang sering dihadapi oleh manusia. Luka bakar
berada diposisi ketiga sebagai penyebab kematian akibat kecelakaan, setelah
kecelakaan kendaraan bermotor dan senjata api(2). Luka bakar adalah luka karena energi panas
atau bahan kimia, radiasi atau elektrik yang dapat menyebabkan kerusakan
integritas pada kulit atau kerusakan jaringan tubuh. Skala berat dan ringannya
luka bakar dilihat dari seberapa dalam dan luasnya area tubuh yang mengalami
luka(3). Dengan
demikian luka bakar dapat diartikan sebagai respon kulit dan jaringan yang
disebabkan energi panas atau bahan kimia, radiasi atau elektrik yang menjadi
salah satu masalah kulit dan menjadi salah satu penyebab terbesar kematian
setelah kecelakaan kendaraan bermotor dan senjata api.
Berdasarkan catatan word healt organitation (WHO), 195.000 kematian/tahun diseluruh
dunia terutama negara miskin dan berkembang disebabkan karena luka bakar(4). Berdasarkan
hasil riset kesehatan dasar (RISKESDAS) 2013 didapatkan prevalensi dari cedera
terbakar memiliki proporsi tertinggi sebanyak 2% di Papua dan terendah sebanyak 0,0 % (tanpa
kasus) di Kalimantan Timur(2). Sedangkan data
dari Departemen Kesehatan RI (2012), prevalensi cedera terbakar di Indonesia
sebanyak 2,2 % (2). Menurut tim
pusbankes 118 persi diy (2012) angka kematian akibat luka bakar diindonesia
berkisar 37-39%. Diindonesia angka kejadian luka bakar cukup tinggi, lebih dari
250 jiwa per tahun meninggal akibat luka bakar(5).
Luka bakar juga akan menimbulkan gejala berupa
nyeri, pembengkakan, dan terbentuknya lepuhan Semua luka bakar (kecuali luka
bakar ringan atau luka bakar derajat I) dapat menimbulkan komplikasi berupa
shock, ketidakseimbangan elektrolit, infeksi sekunder, kekurangan volume cairan
dan, hypermetabolisme, masalah Pernafasan, depresi, kecacatan dan kematian (1,5). Permasalahan
yang dialami oleh penderita luka bakar selain komplikasi adalah rasa nyeri
selama proses penyembuhan. Sakit yang menimbulkan rasa nyeri akan menimbulkan
masalah tidur pada anak. Seseorang yang sedang sakit membutuhkan waktu tidur
lebih lama dari pada keadaan normal pada saat tidur terjadinya proses repair
pada otak dan lebih dari 75% hormon pertumbuhan diproduksi.(1).
Sebelum perawat memberikan penanganan/pengobatan,
perawat terlebih dahulu melakukan pengkajian melalui pendekatan head to toe
(pemeriksaan fisik), keluarga, sosial dan lainnya dengan harapan ketika
melakukan tindakan selanjutnya tidak ada kesalahan data pasien dan tahap
berikutnya dapat dilakukan dengan tepat sesuai masalah kesehatan yang ada.
Penerapan proses keperawatan yaitu pengkajian pasien dengan masalah luka bakar,
pengkajian akan menghasilkan data yang aktual sehingga pada proses keperawatan
selanjutnya dilakukan dengan baik dan benar. Penilaianderajat luka bakar sangat penting untuk
dilakukan sehingga,
pasien akan menerima layanan kesehatan yang berkualitas dan dapat meningkatkan
derajat kesehatan pasien(6).
Kebijakan keselamatan pasien merupakan suatu sistem
yang dilakukan terutama oleh perawat dengan tujuan agar dalam pelaksanaan
pemberian asuhan keperawatan kepada pasien akan lebih aman, meliputi asesmen
resiko, identifikasi dan pengelolaan risiko pasien, pelaporan dan analisis
insiden, kemampuan belajar dari insiden dan tindak lanjutnya, serta implementasi
solusi untuk mengurangi terjadinya resiko dan mencegah timbulnya cedera yang
disebabkan oleh kesalahan ataupun kelalaian oleh perawat dalam melaksanakan
suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang tepat(7).
B. Tujuan
penyusunan
1. Mahasiswa
mengetahui proses terjadinya luka bakar
2. Mahasiswa
mengetahui cara mencegah kejadian luka bakar
3. Mahasiswa
mampu merumuskan rencana asuhan keperawatan pada kasus luka bakar
C. Manfaat
1. Bagi
mahasiswa, makalah ini dapat dijadikan sebagai bahan reverensi untuk materi
kasus luka bakar.
2. Bagi
masyarakat, makalah ini dapat memberikan edukasi kepada masyarakat tentang luka
bakar, sehingga masyarakat dapat mengetahui apa itu luka bakar, penyebab, tenda
dan gejala, komplikasi dan lain sebagainya.
3. Bagi
Ilmu pengetahuan keperawatan, makalah ini dapat dijadikan sebagai update
referensi mengenai kasus luka bakar.
BAB
II
TINJAUAN
TEORI
A. Definisi
luka bakar
Luka bakar atau combustio adalah suatu bentuk
kerusakan dan kehilangan jaringan disebabkan kontak dengan sumber suhu yang
sangat tinggi seperti kobaran api di tubuh (flame), jilatan api ke tubuh
(flash), terkena air panas (scald), tersentuh benda panas (kontak panas),
akibat serangan listrik, akibat bahan- bahan kimia, serta sengatan matahari
(sunburn) dan suhu yang sangat rendah(8). Luka bakar
merupakan suatu bentuk kerusakan atau kehilangan jaringan yang disebabkan
kontak dengan sumber panas seperti api, air panas, bahan kimia, listrik dan
radiasi(6).
Luka bakar adalah suatu bentuk kerusakan dan
kehilangan jaringan dimana terjadinya kontak dengan sumber seperti api, air
panas, listrik, dan radiasi dengan suhu yang sangat tinggi. Saat terjadi kontak
dengan sumber termis (penyebab lainnya), terjadi proses reaksi kimiawi yang
menguras energi dari jaringan sehingga sel tereduksi dan mengalami kerusakan.
Panas yang mengenai tubuh tidak hanya mengakibatkan kerusakan topikal namun
juga memiliki efek sistemik. Perubahan ini khusus terjadi pada luka bakar dan
umumnya tidak ditemui pada luka yang disebabkan oleh cedera lain(4). Luka bakar
adalah luka yang ditandai dengan kerusakan atau kehilangan jaringan kulit yang
disebabkan oleh kontak dengan sumber energy panas, sengatan listrik, bahan
kimia maupun radiasi.
B.
Klasifikasi
1. Klasifikasi
luka menurut kedalaman
Jenis
|
Lapisan yang dilibatkan
|
Tampilan
|
Tekstur
|
Sensasi
|
Waktu penyembuhan
|
Prognosis
|
Superfisial
(derajat 1)
|
Epidermis
|
Merah
tampah lepuh
|
Kering
|
Nyeri
|
5-10
hari
|
Sembuh
dengan baik : sengatan matahari yang berulang, meningkatk an risiko kanker
kulit dikemudian hari
|
Agak superfisial, mengenai
Sebagian
lapisan kulit (derajat II)
|
Meluas
ke lapisan dermis (kapiler) superfisial
|
Merah
dengan lepuh yang jelas, pucat dengan tekanan
|
Lembab
|
Sangat
nyeri
|
Kurang
dari 2-3 minggu
|
Infeksi
lokal/sepuit is tapi biasanya tampah parut
|
Cukup dalam, mengenaI sebagian lapisan
kulit (derajat II)
|
Meluas ke lapisan dermis (retikuler) dalam
|
Kuning atau putih. lebihtid akpucat .
Mungki nlebih melepuh
|
Agak
kering
|
Tekanan
dan tidak nyaman
|
3-8 minggu
|
Parut,
kerut (mungkin memerlukan ksisi dan
cangkok kulit
|
Seluruh lapisan kulit(derajat III)
|
Meluaske
seluruh lapisan dermis
|
Kaku
dan putih/coklat tidak pucat
|
kasar
|
Tidak
nyeri
|
Lama
(berbulan-bulan) dan tidak sempurna
|
Parut,
kerut, ambutasi, (eksisidini dianjurkan )
|
Derajat IV
|
Meluas
ke seluruh lapisan kulit, dan kedalam lapisan lemak, otot dan tulang di
bawahnya
|
Hitam
hangus dengan eksar
|
kering
|
Tidak
nyeri
|
Perlu
insisi
|
Ambutasi
gangguan fungsional yang signifikan dan, dalam beberapa kasus, kematian
|
Tabel 1.
Klasifikasi luka menurut kedalaman(5)
2. Klasifikasi
luka bakar berdasarkan luasnya, Wallace membagi tubuh atas bagian 9% atau kelipatan
9 yang terkenal dengan wallace rule of nine yaitu :
a. Kepala
dan leher : 9%
b. Lengan
masing-masing 9% :18%
c. Badan
depan 18%, badan bagian belakang :36%
d. Tungkai
masing-masing 18 :36%
e. Genitalia/perineum
:1%
Gambar
1. Wallence rule of nine(8)
3. Klasifikasi
luka bakar berdasarkan berat ringan
a. Yang
termasuk luka bakar ringan (minor) :
1) Tingkat
II : kurang dari 15% total bodysurface area pada orang dewasa atau kurang dari
10% total bodysurface area pada anak- anak
2) Tingkat
III : kurang dari 2% total bodysurface area yang tidak disertai komplikasi .
b. Yang
termasuk luka bakar sedang (moderate)
1) Tingkat
II :15% - 25% total bodyserface area pada orang dewasa atau kurang dari 10% -
20% total body pada area anak.
2) Tingkat
III: kurang dari 10% total bodysurface area yang tidak disertai komplikasi
c. Yang
termasuk luka bakar kritis (mayor) :
1) Tingkat
II 32% : Total bodysurface area atau lebih pada orang dewasa atau lebih dari
20% total bodysurface area pada anak- anak.
2) Tingkat
III : 10% atau lebih • Luka bakar yang melibatkan muka, lengan, mata, telinga
kaki dan perineum.
3) Luka bakar pada jalan pernapasan atau adanya
komplikasi pernapasan.
4) Luka
bakar sengatan listrik(elektrik).
5) Luka
bakar yang ditandai dengan masalah yang memperlemah daya tahan tubuh seperti
luka jaringan lunak, fraktur, trauma lain atau masalah kesehatan sebelumnya.
C.
Anatomi fisiologi
Kulit
Kulit adalah
‘selimut’ yang menutupi permukaan tubuh dan memiliki fungsi utama sebagai
pelindung dari berbagai macam gangguan dan rangsangan luar. Luas kulit pada
manusia rata-rata ± 2 meter persegi, dengan berat 10 kg jika dengan lemaknya
atau 4 kg jika tanpa lemak. Kulit terbagi atas dua lapisan utama, yaitu
epidermis (kulit ari) sebagai lapisan yang paling luar dan Dermis (korium,
kutis, kulit jangat). Sedangkan subkutis atau jaringan lemak terletak dibawah
dermis(9).
Ketebalan
epidermis berbeda-beda pada berbagai bagian tubuh, yang paling tebal berukuran
1 milimeter, misalnya pada telapak kaki dan telapak lengan, dan lapisan yang
tipis berukuran 0,1 milimeter terdapat pada kelopak mata, pipi, dahi, dan
perut. Karena ukurannya yang tipis, jika kita terluka biasanya mengenai bagian
setelah epidermis yaitu dermis. Dermis terutama terdiri dari bahan dasar
serabut kolagen dan elastin. Serabut kolagen dapat mencapai 72 persen dari
keseluruhan berat kulit manusia bebas lemak(9).
Pada
bagian dalam dermis terdapat adneksa-adneksa kulit. Adneksa kulit merupakan
struktur yang berasal dari epidermis tetapi berubah bentuk dan fungsinya,
terdiri dari folikel rambut, papila rambut, kelenjar keringat, saluran
keringat, kelenjar sebasea, otot penegak rambut, ujung pembuluh darah dan
serabut saraf, juga sebagian serabut lemak yang terdapat pada lapisan lemak
bawah kulit (subkutis/hipodermis)(9).
Gambar 2. Bagian-bagian kulit(9)
Sama halnya dengan jaringan pada bagian tubuh
lainnya, kulit juga melakukan respirasi (bernapas), menyerap oksigen dan
mengeluarkan karbondioksida. Namun, respirasi kulit sangat lemah. Kulit lebih
banyak menyerap oksigen yang diambil dari aliran darah, dan hanya sebagian
kecil yang diambil langsung dari lingkungan luar (udara). Begitu pula dengan
karbondioksida yang dikeluarkan, lebih banyak melalui aliran darah dibandingkan
dengan yang diembuskan langsung ke udara(9).
Meskipun pengambilan oksigen oleh kulit hanya 1,5
persen dari yang dilakukan oleh paru-paru, dan kulit hanya membutuhkan 7 persen
dari kebutuhan oksigen tubuh (4 persen untuk epidermis dan 3 persen untuk
dermis), pernapasan kulit tetap merupakan proses fisiologis kulit yang penting.
Pengambilan oksigen dari udara oleh kulit sangat berguna bagi metabolisme di
dalam sel-sel kulit. Penyerapan oksigen ini penting, namun pengeluaran atau
pembuangan karbondioksida (CO2) tidak kalah pentingnya, karena jika CO2
menumpuk di dalam kulit, ia akan menghambat pembelahan (regenerasi) sel-sel
kulit(9).
D.
Etiologi
Luka bakar disebabkan oleh dari sumber panas ke
tubuh. Panas tersebut mungkin di pindahkan melalui konduksi atau radiasi
elektromagnetik. Berbagai faktor dapat menjadi penyebab luka bakar, beratnya
luka bakar juga dipengaruhi oleh cara dan lamanya kontak dengan sumber panas
(misalnya suhu benda yang membakar, jenis pakaian yang terbakar, sumber panas:
api, air panas dan minyak panas), listrik, zat kimia, radiasi, kondisi ruangan
saat terjadi kebakaran dan ruangan yang tertutup Faktor yang mempengaruhi
beratnya luka bakar antara lain :
1. Keluasan
luka bakar
2. Kedalaman
luka bakar
3. Umur
pasien
4. Agen
penyebab
5. Fraktur
atau luka lain yang menyertai
6. Penyakit
yang dialami terdahulu seperti diabetes, ginjal, jantung, dll.
7. Obesitas
8. Adanya
trauma inhalasi
Gambar 2. Presentase etiologi(8)
E.
Patofisiologi
Luka bakar disebabkan oleh perpindahan
energi dari sumber panas ke tubuh. Panas tersebut dapat dipindahkan melalui
konduksi atau radiasi elektromagnetik, derajat luka bakar yang berhubungan
dengan beberapa faktor penyebab, konduksi jaringan yang terkena dan lamanya
kulit kontak dengan sumber panas. Kulit dengan luka bakar mengalami kerusakan
pada epidermis, dermis maupun jaringan subkutan tergantung pada penyebabnya.
Terjadinya integritas kulit memungkinkan
mikroorganisme masuk ke dalam tubuh. Kehilangan cairan akan mempengaruhi nilai
normal cairan dan elektrolit tubuh akibat dari peningkatan pada permeabilitas
pembuluh darah sehingga terjadi perpindahan cairan dari intravaskuler ke ekstra
vaskuler melalui kebocoran kapiler yang berakibat tubuh kehilangan natrium,
air, klorida, kalium dan protein plasma. Kemudian terjadi edema menyeluruh dan
dapat berlanjut pada syok hipovolemik apabila tidak segera dilengani.
Menurunnya volume intra vaskuler menyebabkan aliran plasma ke ginjal dan GFR
(Rate Filtrasi Glomerulus) akan menurun sehingga haluaran urine meningkat. Jika
resitasi cairan untuk kebutuhan intravaskuler tidak adekuat bisa terjadi gagal
ginjal dan apabila resitasi cairan adekuat, maka cairan interstisial dapat
ditarik kembali ke intravaskuler sehingga terjadi fase diuresis(5).
F.
Pathway
G.
Manifestasi Klinis
Manifestasi klinik yang muncul pada luka bakar
sesuai dengan kerusakannya(5):
1. Grade
I : Kerusakan pada epidermis, kulit kering kemerahan, nyeri sekali, sembuh
dalam 3-7 dan tidak ada jaringan parut.
2. Grade
II : Kerusakan pada epidermis dan dermis, terdapat vesikel dan edema subkutan,
luka merah, basah dan mengkilat, sangat nyeri, sembuh dalam 28 hari tergantung
komplikasi infeksi.
3. Grade
III : Kerusakan pada semua lapisan kulit, tidak ada nyeri, luka merah keputihan
dan hitam keabu-abuan, tampak kering, lapisan yang rusak tidak sembuh sendiri
maka perlu Skingraf.
H.
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan
penunjang yang diperlukan adalah(5) :
1.
Hitung darah lengkap : Peningkatan
Hematokrit menunjukkan hemokonsentrasi sehubungan dengan perpindahan cairan.
Menurutnya Hematokrit dan sel darah merah terjadi sehubungan dengan kerusakan
oleh panas terhadap pembuluh darah.
2.
Leukosit akan meningkat sebagai respons
inflamasi
3.
Analisa Gas Darah (AGD) : Untuk
kecurigaan cedera inhalasi
4.
Elektrolit Serum. Kalium meningkat
sehubungan dengan cedera jaringan, hipokalemia terjadi bila diuresis.
5.
Albumin serum meningkat akibat
kehilangan protein pada edema jaringan
6.
Kreatinin meningkat menunjukkan perfusi
jaringan
7.
EKG : Tanda iskemik miokardia dapat
terjadi pada luka bakar
8.
Fotografi luka bakar : Memberikan
catatan untuk penyembuhan luka bakar selanjutnya.
I.
Penatalaksanaan Luka
Bakar
Penatalaksanaan pasien luka bakar sesuai dengan
kondisi dan tempat pasien dirawat melibatkan berbagai lingkungan perawatan dan
disiplin ilmu antara lain mencakup penanganan awal (ditempat kejadian),
penanganan pertama di unit gawat darurat, penanganan di ruangan intensif dan
bangsal. Tindakan yang dilakukan antara lain terapi cairan, fisioterapi dan
psikiatri pasien dengan luka bakar memerlukan obat-obatan topikah karena eschar
tidak dapat ditembus dengan pemberian obat antibiotik sistemis. Pemberian obat-
obatantopikah anti mikrobial bertujuan tidak untuk mensterilkan luka akan
tetapi untuk menekan pertumbuhan mikroorganisme dan mengurangi kolonisasi,
dengan pemberian obat-obatan topikah secara tepat dan efektif dapat mengurangi
terjadinya infeksi luka dan mencegah sepsis yang sering kali masih terjadi
penyebab kematian pasien.
1. Tatalaksana
resusitasi luka bakar
a. Tatalaksana
resusitasi jalan napas
1) Inkubasi
: tindakan inkubasi dikerjakan sebelum edema mukosa
2) Krikotiroidomi
:bertujuan sama dengan inkubasi hanya dianggap agresif
3) Pemberian
oksigen 100%
4) Perawatan
jalan napas
5) PenghiasanSecret
6) Pemberian
terapi inhalasi
7) Bilasan
bronkoalveolor
8) Perawatan
rehabilitatif untuk respirtif
9) Eskarotomi
b. Tatalaksana
resusitasi cairan
1) Cara
Evans
2) Cara
baxter
c. Resusitasi
nutrisi Pada pasien luka bakar,pemberian nutrisi enteral sebaiknya dilakukan
sejak dini
2. Penanganan
Luka
a. Pendinginan
luka
b. Debridemen
c. Tindakan
pembedahan
d. Split
cangkok kulit
e. Flap
3. Terapi
manipulasi lingkungan
a. Fase
inflamasi
b. Fase
fibrolastic
c. Fase
maturbasi
J.
Komplikasi
1. Segera
Sindrom kompartemen dari luka bakar sirkumferensial ( luka bakar pada
ekstremitas iskemia ekstremitas, luka bakar pada toraks hipoksia dari gagal
napas restriktif) ( cegah dengan eskaratomi segera)(5).
2. Awal
a. Infeksi
( waspadai steptococcus ) obati infeksi yang timbul ( 10% organisme pada biopsi
luka ) dengan antibiotik sistemis.
b. Ulkus
akibat stres ( ulkus cerling) ( cegah dengan antasida, broker H2 atau inhibitor
pompa proton profilaksis)
c. Hiperkalsemia
( dari sitolisis pada luka bakar luas). Obati dengan insulin, dekstrosa.
BAB III
KONSEP KEPERAWATAN
A.
Pengkajian
Pada
data pengkajian tergantung pada tipe, berat dan permukaan tubuh yang terkena, antara
lain(5) :
1. Aktivitas
/ Istirahat
Tanda : Penundaan kekuatan, tahanan,
keterbatasan rentang gerak, perubahan tonus.
2. Sirkulasi
Tanda : Hipotensi (syok), perubahan nadi
distal pada ekstremitas yang cedera, kulit putih dan dingin (syok listrik),
edema jaringan, disritmia.
3. Integritas
ego
Tanda dan Gejala : Kecacatan, kekuatan,
menarik diri
4. Eliminasi
Tanda : diuresis, haluaran urine menurun
fase darurat, penurunan mobilitas usus.
5. Makanan
/ Cairan
Tanda : edema jaringan umum, anoreksia,
mual dan muntah
6. Neurosensori
Gejala : area kebas, kesemutan
Tanda : perubahan orientasi, afek,
perilaku, aktivitas kejang, paralisis (Cedera aliran listrik pada aliran Saraf)
7. Nyeri
/ kenyamanan
Gejala : nyeri, panas
8. Pernafasan
9. Gejala
: Cedera inhalasi (terpajan lama)
Tanda : serak, batuk, sianosis, jalan
nafas atas stridor bunyi nafas gemiricik, ronkhiSecret dalam jalan nafas
10. Keamanan
Tanda :
destruksi jaringan, kulit mungkin coklat dengan
tekstur seperti : lepuh, ulkus, nekrosis atau jaringan parut tebal.
B.
Diagnosa
1. Difisit
volume cairan b.d hambatan mengakses cairan, asupan cairan kurang, kurang
pengetahuan tentang kebutuhan cairan
2. Nyeri
akut b.d agen cedera kimiawi.
3. Hambatan
mobilitas fisik b.d penurunan kekuatan otot, penurunan kendali otot, penurunan
ketahanan otot, nyeri.
4. Kerusakan
integritas jaringan kulit b.d kekurangan volume cairan, agen cedera kimiawi
5. Risiko
infeksi dengan factor risiko gangguan integritas kulit
C.
Kriteria Hasil
1. Difisit
volume cairan b.d hambatan mengakses cairan, asupan cairan kurang, kurang
pengetahuan tentang kebutuhan cairan.
Hidrasi: Turgor kulit, intake cairan,
output urine.
2. Nyeri
akut b.d agen cedera kimiawi.
Tingkat ketidak nyamanan: Nyeri, cemas,
depresi
3. Hambatan
mobilitas fisik b.d penurunan kekuatan otot, penurunan kendali otot, penurunan
ketahanan otot, nyeri.
Pergerakan: keseimbangan, gerakan otot,
gerak sendi
4. Kerusakan
integritas jaringan kulit b.d kekurangan volume cairan, agen cedera kimiawi
Integritas jaringan; Kulit &
membrane Mukosa: Sensasi, elastisitas, hidrasi, kering, integritas kulit.
5. Risiko
infeksi dengan factor risiko gangguan integritas kulit
Penyembuhan luka bakar: presentase kesembuhan area
luka bakar, granulasi jaringan, pergerakan sendi yang terkena.
D.
Intervensi
1. Difisit
volume cairan b.d hambatan mengakses cairan, asupan cairan kurang, kurang
pengetahuan tentang kebutuhan cairan.
Manajemen cairan:
a. Kaji
lokasi dan luasnya edema jika ada
b. Berika
cairan dengan tepat
c. Berikan
terapi IV, seperti yang ditentukan
d. Tingkatkan
asupan oral
e. Dukung
pasien dan keluarga untuk membantu dalam memberikan makan dengan baik
2. Nyeri
akut b.d agen cedera kimiawi.
Menejement nyeri:
a. Lakukan
pengkajian nyeri komprehensif yang meliputi lokasi, karakteristik, durasi,
frekuensi, kualitas, intensitas atau beratnya nyeri dan factor pencetus
b. Gunakan
strategi komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalam nyeri dan sampaikan
penerimaan pasien terhadap nyeri.
c. Berikan
informasi mengenai nyeri, seperti penyebab nyeri, berapa lama nyeri akan
dirasakan, dan antisipasi dari ketidak nyamanan akibat prosedur
d. Pastikan
perawatan analgesic bagi pasien dilakukan dengan pemantauan yang tepat
3. Hambatan
mobilitas fisik b.d penurunan kekuatan otot, penurunan kendali otot, penurunan
ketahanan otot, nyeri.
Terapi;latihan ambulasi:
a. Beri
pasien pakean yang tidak mengekang
b. Sediakan
tempat tidur yang berketinggian rendah
c. Bantu
pasien untuk duduk disisi tempat tidur untuk memfasilitasi penyesuaian sikap
tubuh
d. Bantu
pasien untuk ambulasi awal jika diperlukan.
4. Kerusakan
integritas jaringan kulit b.d kekurangan volume cairan, agen cedera kimiawi
Perawatan luka:
a. Monitor
karakteristik luka, termaksut drainase, warna, ukuran, dan bau
b. Ukur
luas luka yang sesuai
c. Bersihkan
dengan normal saline atau pembersih yang tidak beracun dengan sesuai
d. Oleskan
salep yang sesuai dengan kulit/lesi
5. Risiko
infeksi dengan factor risiko gangguan integritas kulit
Kontrol infeksi:
a. Bersihkan
lingkungan dengan baiksetelah digunakan untuk setiap pasien
b. Anjurkan
pasien mengenai tehnik mencuci tangan dengan tepat
c. Lakukan
tindakan-tindakan pencegahan yang bersifat universal
d. Pakai
sarung tangan steril yang tepat
BAB IV
ASUHAN KEPERAWATAN
A. Kasus
Seorang pasien Pria bernama Tn. R
Berusia 24 tahun, datang dirumah sakit pada tanggal 10 mei 2020, jam 06.15 WITA
dengan keluhan mengalami luka dibagian lengan kanan depan. Luka tersebut
terjadi saat pasien hendak menganti air radiator mesin kapal yang dimilikinya
yang masih dalam keadaan panas. Kemudian pasien dilarikan ke rumah sakit
terdekat guna mendapatkan pertolongan. Saat berada dilokasi kejadian, warga
sempat memberikan pertolongan pertama pada Tn. R dengan cara menyiram area yang
terkena luka dengan air mengalir sebelum akhirnya pasien dibawa ke rumah sakit.
B. Pengkajian
1.
Biodata
pasien
a.
Nama :
Tn. R
b.
Jenis kelamin : Laki-laki
c.
Tempat, tanggal lahir/usia : Meluhu, 13 Mei 1996
d.
Alamat :
Kel. Meluhu, Kec. Meluhu
e.
Pekerjaan : Mahasiswa
f.
Agama :
Islam
g.
Suku bangsa/ras : Tolaki
h.
Pendidikan terakhir : SMA sederajat
i.
Diagnosa medis : Combustio
2.
Identitas
keluarga/wali
a.
Nama :
Tn. A
b.
Jenis kelamin : Laki-laki
c.
Usia :
56 tahun
d.
Alamat :
Kel. Meluhu, Kec. Meluhu
e.
Hubungan keluarga dengan pasien : Orang tua pasien
3.
Riwayat
kesehatan
a.
Keluhan utama saat MRS : klien mengeluh nyeri
pada bagian lengan
kanan
depan akibat tersiram air panas
b.
Keluhan utama saat pengkajian : klien mengeluh nyeri pada
bagian lengan
kanan
depan akibat tersiram air panas
c.
Riwayat keluhan utama : nyeri akibat
tersiram air panas, dirasakan
seperti
terbakar pada area lengan kanan
skla
6 depan dan dirasakan terus
menerus.
Klien nampak melindungi area
yang
terkena air panas serta klien juga
nampak
meringis
d.
Riwayat kesehatan sekarang : Klien Mengalami luka bakar
pada bagian
lengan
kanan bagian depan akibat
siraman
air panas.
e.
Riwayat penyakit yang pernah diderita : -
f.
Kebiasaan : Minum kopi
g.
Riwayat alergi : alergi makanan (udang,
kepiting dan
cumi-cumi)
h.
Riwayat kehamilan : -
i.
Riwayat kesehatan keluarga :
4.
Keadaan
umum dan tanda-tanda vital
a.
Keadaan Umum : GCS 15 (composmetis)
b.
Td :
120/80 MmHg
c.
N :
100 X/Menit
d.
S :
36,8o C
e.
R :
18 X/Menit
5.
Pengkajian
fisik (integumen)
a. Inspeksi
1)
Edema :
Lengan depan bawah mengalami edema kulit
2)
Diaphoresis :
3)
Kelembapan kulit : basah
4)
Warna kulit : merah (lengan depan atas), merah kehitaman (lengan
depan bawah
5)
Drainase :
6)
Balutan :
-
7)
Ulkus/luka : luka pada bagian lengan depan
8)
Kelainan rambut : -
9)
Kelainan kuku : -
b.
Palpasi
1)
Suhu :
hangat
2)
Turgor :
-
3) Nyeri
tekan : nyeri pada bagian
lengan kanan depan
Gambaran
area luka tampak depan
Gambar
4. Area luka bakar
Catatan: Luka yang
dialami oleh pasien berada pada bagian lengan kanan depan seluas 4,5%, grade I
dan II. Sebagian lengan kanan depan pasien terjadi bulae (bagian bawah) dan
sebegaian lagi hanya mengalami kemerahan saja.
C. Analisa
data
1. Nama : Tn. R
2. Dignosa : Combustio
3. Umur : 24 th
No
|
Data
|
Etiologi
|
Problem
|
1.
|
Ds:
Klien
mengeluh nyeri akibat tersiram air panas, dirasakan seperti terbakar pada
area lengan kanan depan skala 6 dan dirasakan terus menerus. Klien juga
melindungi area nyeri serta nampak meringis.
Do:
Ada
luka bakar pada lengan kanan depan, kulit merah dan terasa hangat, ada edema
kulit pada lengan kanan atas bagian depan serta nyeri tekan pada bagian luka.
TTV
Td : 120/80 MmHg
N : 100 X/Menit
S : 36,8o C
R
: 18 X/Menit
|
Luka bakar
Kerusakan jaringan kulit
(epidermis, dermis)
Merangsang syaraf perifer
Nyeri akut
|
Nyeri
akut b.d agen cedera kimiawi
|
2.
|
Ds:
Klien
mengeluh nyeri akibat tersiram air panas, dirasakan seperti terbakar pada
area lengan kanan depan skala 6 dan dirasakan terus menerus. Klien juga
melindungi area nyeri serta nampak meringis.
Do:
Terdapat
luka bakar pada bagian lengan kanan depan 4,5% grade I dan grade II, kulit
sebagian tampak merah dan sebagian lagi Nampak merah kehitaman
|
Luka bakar
Kerusakan jaringan kulit
(epidermis, dermis)
Kerusakn integritas jaringan
|
Kerusakn
integritas jaringan kulit b.d agen cedera kimia
|
3.
|
Do:
Terdapat
luka bakar pada bagian lengan kanan depan 4,5% grade I dan grade II, kulit
sebagian tampak merah dan sebagian lagi Nampak merah kehitaman
|
Luka bakar
Kerusakan jaringan kulit
(epidermis, dermis)
Port the entry microorganism
Risiko infeksi
|
Risiko
infeksi dengan factor risiko gangguan integritas kulit
|
Table
2. analisa data
D. Diagnose
1.
Nyeri akut b.d agen cedera kimiawi
2.
Kerusakn integritas jaringan kulit b.d
agen cedera kimia
3.
Risiko infeksi dengan factor risiko
gangguan integritas kulit
E. Rencana
asuhan keperawatan keperawatan
Nama Inisial Pasien : Tn. R Diagnosa
Medis : Combustio
Umur :
24
Th No.
Register :
NO
|
Diagnosa Keperawatan
|
Tujuan
& Kriteria Hasil (NOC)
|
Intervensi (NIC)
|
|
|
Domain :12 Kenyamanan
Kelas : 1 Kenyamanan fisik
Kode
: 00132
Nyeri akut b.d agen cedera kimiawi
ditandai dengan :
DS :
Klien mengeluh nyeri
akibat tersiram air panas, dirasakan seperti terbakar pada area lengan kanan
depan skala 6 dan dirasakan terus menerus. Klien juga melindungi area nyeri
serta nampak meringis.
Do:
Ada luka bakar pada
lengan kanan depan, kulit merah dan terasa hangat, ada edema kulit pada
lengan kanan atas bagian depan serta nyeri tekan pada bagian luka.
TTV
Td : 120/80 MmHg
N : 100 X/Menit
S : 36,8o C
R : 18 X/Menit
|
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3X24 jam/menit :
Tingkat
ketidaknyamanan (2109) (skala 1 :berat, 2 : cukup berat, 3 :sedang, 4 : ringan, 5 : tidak ada),
dengan kriteria :
a. nyeri (skala 3 menjadi 4)
|
Intervensi
Keperawatan
Menejemen nyeri
(1400)
Aktivitas Keperawatan
1. Lakukan
pengkajian nyeri komprehensif yang meliputi lokasi, karakteristik, durasi,
frekuensi, kualitas, intensitas atau beratnya nyeri dan factor pencetus
2. Gunakan
strategi komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalam nyeri dan sampaikan
penerimaan pasien terhadap nyeri.
3. Berikan
informasi mengenai nyeri, seperti penyebab nyeri, berapa lama nyeri akan
dirasakan, dan antisipasi dari ketidak nyamanan akibat prosedur
4. Pastikan
perawatan analgesic bagi pasien dilakukan dengan pemantauan yang tepat
|
|
|
Domain : 11 Keamanan/perlindungan
Kelas : 2 cedera fisik
Kode
: 00046
Kerusakn integritas jaringan kulit b.d
agen cedera kimia
ditandai dengan :
Ds:
Klien mengeluh nyeri
akibat tersiram air panas, dirasakan seperti terbakar pada area lengan kanan
depan skala 6 dan dirasakan terus menerus. Klien juga melindungi area nyeri
serta nampak meringis.
Do:
Terdapat luka bakar
pada bagian lengan kanan depan 4,5% grade I dan grade II, kulit sebagian
tampak merah dan sebagian lagi Nampak merah kehitaman
|
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3X24 jam/menit :
Integritas
jaringan; Kulit & membrane Mukosa (1101) (skala 1 :sangat
terganggu, 2 : banyak terganggu, 3 : cukup
terganggu, 4 : sedikit terganggu, 5 : tidak
terganggu),
dengan kriteria :
a. Suhu kulit (skala 3 menjadi 4)
b. sensasi (skala 3 menjadi 4
)
|
Intervensi
Keperawatan
Perawatan luka (3660)
Aktivitas Keperawatan
:
a. Monitor
karakteristik luka, termaksut drainase, warna, ukuran, dan bau
b. Ukur
luas luka yang sesuai
c. Bersihkan
dengan normal saline atau pembersih yang tidak beracun dengan sesuai
d. Oleskan
salep yang sesuai dengan kulit/lesi
|
Domain : 11 Keamanan/perlindungan
Kelas : 1
infeksi
Kode :
00004
Risiko infeksi dengan factor risiko gengguan
integritas kulit
ditandai dengan :
Do:
Terdapat luka bakar
pada bagian lengan kanan depan 4,5% grade I dan grade II, kulit sebagian
tampak merah dan sebagian lagi Nampak merah kehitaman.
|
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3X24 jam/menit :
Penyembuhan
luka bakar (1106) (skala 1 :sangat besar, 2 : besar, 3 :sedang, 4 : terbatas,5 : tidak ada),
dengan kriteria :
a. nyeri (skala 3 menjadi 4)
b. infeksi (skala 3 menjadi 4
)
c. kulit melepuh (skala 3 menjadi 4 )
|
Intervensi
Keperawatan
Kontrol infeksi
(6540)
Aktivitas Keperawatan
:
a. Bersihkan
lingkungan dengan baiksetelah digunakan untuk setiap pasien
b. Anjurkan
pasien mengenai tehnik mencuci tangan dengan tepat
c. Lakukan
tindakan-tindakan pencegahan yang bersifat universal
d. Pakai
sarung tangan steril yang tepat
|
Tabel 3. Rencana asuhan
keperawatan
F. Implementasi
& evaluasi
Nama Inisial Pasien : Tn. R Diagnosa Medis : Combustio
Umur : 24
Th No. Register :
Diagnosa
Keperawatan
|
Implementasi
|
Evaluasi
|
|
Jam
|
Tanggal : 10 Mei 2020
|
Hari/tanggal: 13 mei 2020
Jam : 06.30
|
|
Domain :12 Kenyamanan
Kelas : 1
Kenyamanan fisik
Kode :
00132
Nyeri akut b.d agen cedera kimiawi
|
07.00
|
1. Melakukan
pengkajian nyeri komprehensif yang meliputi lokasi, karakteristik, durasi,
frekuensi, kualitas, intensitas atau beratnya nyeri dan factor pencetus
Hasil : Ada luka bakar pada
lengan kanan depan, kulit merah dan terasa hangat, ada edema kulit pada
lengan kanan atas bagian depan serta nyeri tekan pada bagian luka dan juga rasa
nyeri yang terus menerus
2. Gunakan
strategi komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalam nyeri dan sampaikan
penerimaan pasien terhadap nyeri.
Hasil : pasien merasakan
nyeri secara terus-menerus pada area lengan kanan depan
3. Berikan
informasi mengenai nyeri, seperti penyebab nyeri, berapa lama nyeri akan
dirasakan, dan antisipasi dari ketidak nyamanan akibat prosedur
Hasil : Nyeri yang dirasakan
timbul akibat kontak dengan air panas secara langsung dan mengakibatkan
respon syaraf perifer
4. Pastikan
perawatan analgesic bagi pasien dilakukan dengan pemantauan yang tepat
Hasil : pemberian ketorolac
|
S:klien mengatakan
nyeri yang dirasakan berkurang
O:pasien tidak Nampak
meringis, serta tidak melindungi area nyeri
TTV
Td : 120/80 MmHg
N : 80 X/Menit
S : 36,8o C
R :
18 X/Menit
A:masalah teratasi
P: pasien pulang
intervensi dihentikan
|
Domain : 11 Keamanan/perlindungan
Kelas : 2
cedera fisik
Kode :
00046
Kerusakn integritas jaringan kulit b.d agen cedera
kimia
|
1. Memonitor
karakteristik luka, termaksut drainase, warna, ukuran, dan bau
Hasil : kulit sebagian tampak merah dan
sebagian lagi Nampak merah kehitaman
2. Mengukur
luas luka yang sesuai
Hasil : Terdapat luka bakar
pada bagian lengan kanan depan 4,5% grade I dan grade II,
3. Membersihkan
dengan normal saline atau pembersih yang tidak beracun dengan sesuai
Hasil : luka dibersihkan
dengan larutan NaCl 0,9%
4. Mengoleskan
salep yang sesuai dengan kulit/lesi
Hasil : salep yang diberikan
adalah bioplasenton
|
S:klien mengatakan
nyeri berkurang, tidak ada lagi sensasi terbakar
O:bulae pada lengan
mulai berkurang namun masih terdapat luka, suhu kulit baik.
A:masalah belum
teratasi
P: intervensi dihentikan
pasien pulang
|
|
Domain : 11 Keamanan/perlindungan
Kelas : 1
infeksi
Kode :
00004
Risiko infeksi dengan factor risiko gengguan
integritas kulit
|
1.
Membersihkan lingkungan dengan
baik setelah digunakan untuk setiap pasien
Hasil : lingkungan
dibersihkan setelah digunakan oleh setiap pasien
2.
Menganjurkan pasien mengenai
tehnik mencuci tangan dengan tepat
Hasil : pasien diajarkan
tehnik mencuci tangan 6 langkah
3.
Melakukan tindakan-tindakan
pencegahan yang bersifat universal
Hasil : pembatasan
pengunjung, sterilisasi alat, mencuci tangan 6 langkah dan control lingkungan
4.
Memakai sarung tangan steril yang
tepat
Hasil : sarung tangan steril
digunakan
|
S:klien mengatakan
merasa nyaman dengan lingkungan
O:lingkungan
terkendali, namun masih terdapat luka sebagai factor risiko
A:masalah teratasi
P: intervensi dihentikan
pasien pulang
|
|
Tabel
4. Implemetansi & evaluasi
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Luka bakar merupakan kerusakan integritas jaringan akibat
adanya kontak langsung tubuh dengan sumber panas baik dari api secara langsung,
sengatan listrik, bahan kimia maupun akibat paparan sinar matahari. Proses luka
bakar bermula ketika terjadi perpindahan panas dari luar ke tubuh baik secara
konduksi maupun radiasi, tingkat keparahan yang terjadi tergantung dari
penyebab luka bakar dan lama kontak dengan sumber panas.
Untuk mencegah terjadinya luka bakar adalah dengan menghindari
faktor penyebab luka dan menggunakan pelindung diri ketika melakukan kegiatan
yang berkaitan dengan penyebab terjadinya luka serta memperhatikan aspek
kesehatan keselamatan kerja.
Rumusan asuhan keperawatan pada kasus luka bakar dari makalah
ini, umumnya sama pada asuhan keperawatan lainnya yang terdiri dari pengkajian,
diagnosa, intervensi, implenentasi dan evaluasi, dengan buku nanda nic noc
sebagai bahan acuan. Pada kasus luka bakar kali ini saya menggunakan pengkajian
KMB sistem integument.
B. Saran
1.
Bagi mahasiswa,
intervensi yang dilakukan diatas dapat diterapkan untuk kasus luka bakar.
Namun, tetap harus disesuaikan dengan kasus yang ada sehingga dibutuhkan
pengembangan materi selanjutnya.
2.
Makalah ini juga dapat
dijadikan referensi untuk menambah pengetahuan masyarakat tentang
luka bakar akibat air panas.
3.
Bagi ilmu keperawatan,
makalah ini juga dapat dijadikan sebagai referensi tambahan mengenai luka bakar
akibat air panas grade I dan II.
DAFTAR PUSTAKA
1. SAFITRI
ED. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Dengan Intervensi Inovasi Pemberian
Aromaterapi Mawar Dan Terapi Murottal Al-Quran Terhadap Peningkatan Kualitas
Tidur Pada Pasien An. D Dengan Combustio Di Ruang Picu Rsud Abdul Wahab
Sjahranie Tahun 2017. 2017;
2. Marissa
K. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Pada Pasien Combustio Dengan Inovasi
Intervensi Terapi Spiritual Emotional Freedom Technique (Seft) Terhadap Respon
Adaptasi Psikologis Di Ruang Intensive Care Unit (Icu) Rsud Abdoel Wahab
Sjahranie Samarinda. 2017;
3. Lucia
Anik Purwaningsih EMR. Respon Adaptasi Fisiologis Dan Psikologis Pasien Luka
Bakar Yang Diberikan Kombinasi Alternative Moisture Balance Dressing Dan Seft
Terapi Di Rsup Dr. Sardjito Yogyakarta. IEEE Int Conf Acoust Speech, Signal
Process 2017. 2017;41(2):84–93.
4. Novi
Rimba sari, Yogie Irawan MMLJ. Pengaruh Pemberian Sediaan Emulgel Ekstrak Buah
Mahkota Dewa (Phaleria Macrocarpa (Scheff).Boerl.)Dengan Kitosan Sebagaigelling
Agent Terhadap Penyembuhan Luka Bakar Pada Tikus. 2016;
5. LEDOH
OO. Asuhan Keperawatan Pada Tn A.N Dengan Combutio Diruang Asoka Rsud Prof Dr
W.Z Yohanes Kupang. 2019;
6. Harvita
SRI, Marpaung S. Pelaksanaan proses pengkajian keperawatan pada pasien luka
bakar. 2019;
7. Juniasti
M. Kebijakan keselamatan pasien pada pasien luka bakar. 2017;
8. Susianti
SWK. Luka Bakar Derajat II-III 90 % karena Api pada Laki-laki 22 Tahun di
Bagian Bedah Rumah Sakit Umum Daerah Abdoel Moeloek Lampung. 2017;7:143.
9. Pamesti A
reni. Absorbent Dressing Sponge Berbasis Alginat-Kitosan Berkurkumin Untuk Luka
Derajat Eksudat Sedang-Besar. 2012;6–38
Komentar
Posting Komentar