Keperawatan maritim asuhan keperawatan luka bakar


DENGAN LUKA BAKAR
Oleh Kelompok II
ANANG ASATIANA
AYU ASTUTI
INDAYANTI HUDIN
NOPERIALDA ANGGRAENI S.
SURAMADHAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
KARYA KESEHATAN KENDARI
PRODI S1 KEPERAWATAN
KENDARI
2020




BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar belakang

Luka bakar merupakan respon kulit dan jaringan subkutan terhadap paparan yang berasal dari sumber panas, listrik, zat kimia, dan radiasi(1). Luka bakar adalah salah satu masalah kulit yang sering dihadapi oleh manusia. Luka bakar berada diposisi ketiga sebagai penyebab kematian akibat kecelakaan, setelah kecelakaan kendaraan bermotor dan senjata api(2).  Luka bakar adalah luka karena energi panas atau bahan kimia, radiasi atau elektrik yang dapat menyebabkan kerusakan integritas pada kulit atau kerusakan jaringan tubuh. Skala berat dan ringannya luka bakar dilihat dari seberapa dalam dan luasnya area tubuh yang mengalami luka(3). Dengan demikian luka bakar dapat diartikan sebagai respon kulit dan jaringan yang disebabkan energi panas atau bahan kimia, radiasi atau elektrik yang menjadi salah satu masalah kulit dan menjadi salah satu penyebab terbesar kematian setelah kecelakaan kendaraan bermotor dan senjata api.
Berdasarkan catatan word healt organitation (WHO), 195.000 kematian/tahun diseluruh dunia terutama negara miskin dan berkembang disebabkan karena luka bakar(4). Berdasarkan hasil riset kesehatan dasar (RISKESDAS) 2013 didapatkan prevalensi dari cedera terbakar memiliki proporsi tertinggi sebanyak 2%  di Papua dan terendah sebanyak 0,0 % (tanpa kasus) di Kalimantan Timur(2). Sedangkan data dari Departemen Kesehatan RI (2012), prevalensi cedera terbakar di Indonesia sebanyak 2,2 % (2). Menurut tim pusbankes 118 persi diy (2012) angka kematian akibat luka bakar diindonesia berkisar 37-39%. Diindonesia angka kejadian luka bakar cukup tinggi, lebih dari 250 jiwa per tahun meninggal akibat luka bakar(5).
Luka bakar juga akan menimbulkan gejala berupa nyeri, pembengkakan, dan terbentuknya lepuhan Semua luka bakar (kecuali luka bakar ringan atau luka bakar derajat I) dapat menimbulkan komplikasi berupa shock, ketidakseimbangan elektrolit, infeksi sekunder, kekurangan volume cairan dan, hypermetabolisme, masalah Pernafasan, depresi, kecacatan dan kematian (1,5). Permasalahan yang dialami oleh penderita luka bakar selain komplikasi adalah rasa nyeri selama proses penyembuhan. Sakit yang menimbulkan rasa nyeri akan menimbulkan masalah tidur pada anak. Seseorang yang sedang sakit membutuhkan waktu tidur lebih lama dari pada keadaan normal pada saat tidur terjadinya proses repair pada otak dan lebih dari 75% hormon pertumbuhan diproduksi.(1).
Sebelum perawat memberikan penanganan/pengobatan, perawat terlebih dahulu melakukan pengkajian melalui pendekatan head to toe (pemeriksaan fisik), keluarga, sosial dan lainnya dengan harapan ketika melakukan tindakan selanjutnya tidak ada kesalahan data pasien dan tahap berikutnya dapat dilakukan dengan tepat sesuai masalah kesehatan yang ada. Penerapan proses keperawatan yaitu pengkajian pasien dengan masalah luka bakar, pengkajian akan menghasilkan data yang aktual sehingga pada proses keperawatan selanjutnya dilakukan dengan baik dan benar. Penilaianderajat luka bakar sangat penting untuk dilakukan sehingga, pasien akan menerima layanan kesehatan yang berkualitas dan dapat meningkatkan derajat kesehatan pasien(6).
Kebijakan keselamatan pasien merupakan suatu sistem yang dilakukan terutama oleh perawat dengan tujuan agar dalam pelaksanaan pemberian asuhan keperawatan kepada pasien akan lebih aman, meliputi asesmen resiko, identifikasi dan pengelolaan risiko pasien, pelaporan dan analisis insiden, kemampuan belajar dari insiden dan tindak lanjutnya, serta implementasi solusi untuk mengurangi terjadinya resiko dan mencegah timbulnya cedera yang disebabkan oleh kesalahan ataupun kelalaian oleh perawat dalam melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang tepat(7).

B.     Tujuan penyusunan

1.      Mahasiswa mengetahui proses terjadinya luka bakar
2.      Mahasiswa mengetahui cara mencegah kejadian luka bakar
3.      Mahasiswa mampu merumuskan rencana asuhan keperawatan pada kasus luka bakar

C.    Manfaat

1.      Bagi mahasiswa, makalah ini dapat dijadikan sebagai bahan reverensi untuk materi kasus luka bakar.
2.      Bagi masyarakat, makalah ini dapat memberikan edukasi kepada masyarakat tentang luka bakar, sehingga masyarakat dapat mengetahui apa itu luka bakar, penyebab, tenda dan gejala, komplikasi dan lain sebagainya.
3.      Bagi Ilmu pengetahuan keperawatan, makalah ini dapat dijadikan sebagai update referensi mengenai kasus luka bakar.


BAB II

TINJAUAN TEORI

A.    Definisi luka bakar

Luka bakar atau combustio adalah suatu bentuk kerusakan dan kehilangan jaringan disebabkan kontak dengan sumber suhu yang sangat tinggi seperti kobaran api di tubuh (flame), jilatan api ke tubuh (flash), terkena air panas (scald), tersentuh benda panas (kontak panas), akibat serangan listrik, akibat bahan- bahan kimia, serta sengatan matahari (sunburn) dan suhu yang sangat rendah(8). Luka bakar merupakan suatu bentuk kerusakan atau kehilangan jaringan yang disebabkan kontak dengan sumber panas seperti api, air panas, bahan kimia, listrik dan radiasi(6).
Luka bakar adalah suatu bentuk kerusakan dan kehilangan jaringan dimana terjadinya kontak dengan sumber seperti api, air panas, listrik, dan radiasi dengan suhu yang sangat tinggi. Saat terjadi kontak dengan sumber termis (penyebab lainnya), terjadi proses reaksi kimiawi yang menguras energi dari jaringan sehingga sel tereduksi dan mengalami kerusakan. Panas yang mengenai tubuh tidak hanya mengakibatkan kerusakan topikal namun juga memiliki efek sistemik. Perubahan ini khusus terjadi pada luka bakar dan umumnya tidak ditemui pada luka yang disebabkan oleh cedera lain(4). Luka bakar adalah luka yang ditandai dengan kerusakan atau kehilangan jaringan kulit yang disebabkan oleh kontak dengan sumber energy panas, sengatan listrik, bahan kimia maupun radiasi.



B.     Klasifikasi

1.      Klasifikasi luka menurut kedalaman
Jenis
Lapisan yang dilibatkan
Tampilan
Tekstur
Sensasi
Waktu penyembuhan
Prognosis
Superfisial
(derajat 1)
Epidermis
Merah tampah lepuh
Kering
Nyeri
5-10 hari
Sembuh dengan baik : sengatan matahari yang berulang, meningkatk an risiko kanker kulit dikemudian hari
Agak superfisial, mengenai
Sebagian lapisan kulit (derajat II)
Meluas ke lapisan dermis (kapiler) superfisial
Merah dengan lepuh yang jelas, pucat dengan tekanan
Lembab
Sangat nyeri
Kurang dari 2-3 minggu
Infeksi lokal/sepuit is tapi biasanya tampah parut
Cukup dalam, mengenaI sebagian lapisan kulit (derajat II)
Meluas ke lapisan dermis (retikuler) dalam
Kuning atau putih. lebihtid akpucat . Mungki nlebih melepuh
Agak kering
Tekanan dan tidak nyaman
3-8 minggu
Parut, kerut (mungkin memerlukan  ksisi dan cangkok kulit
Seluruh lapisan kulit(derajat III)
Meluaske seluruh lapisan dermis
Kaku dan putih/coklat tidak pucat
kasar
Tidak nyeri
Lama (berbulan-bulan) dan tidak sempurna
Parut, kerut, ambutasi, (eksisidini dianjurkan )
Derajat IV
Meluas ke seluruh lapisan kulit, dan kedalam lapisan lemak, otot dan tulang di bawahnya
Hitam hangus dengan eksar
kering
Tidak nyeri
Perlu insisi
Ambutasi gangguan fungsional yang signifikan dan, dalam beberapa kasus, kematian
Tabel 1. Klasifikasi luka menurut kedalaman(5)
2.      Klasifikasi luka bakar berdasarkan luasnya, Wallace membagi tubuh atas bagian 9% atau kelipatan 9 yang terkenal dengan wallace rule of nine yaitu :
a.       Kepala dan leher : 9%
b.      Lengan masing-masing 9% :18%
c.       Badan depan 18%, badan bagian belakang :36%
d.      Tungkai masing-masing 18 :36%
e.       Genitalia/perineum :1%






Gambar 1. Wallence rule of nine(8)
3.      Klasifikasi luka bakar berdasarkan berat ringan
a.       Yang termasuk luka bakar ringan (minor) :
1)      Tingkat II : kurang dari 15% total bodysurface area pada orang dewasa atau kurang dari 10% total bodysurface area pada anak- anak
2)      Tingkat III : kurang dari 2% total bodysurface area yang tidak disertai komplikasi .
b.      Yang termasuk luka bakar sedang (moderate)
1)      Tingkat II :15% - 25% total bodyserface area pada orang dewasa atau kurang dari 10% - 20% total body pada area anak.
2)      Tingkat III: kurang dari 10% total bodysurface area yang tidak disertai komplikasi
c.       Yang termasuk luka bakar kritis (mayor) :
1)      Tingkat II 32% : Total bodysurface area atau lebih pada orang dewasa atau lebih dari 20% total bodysurface area pada anak- anak.
2)      Tingkat III : 10% atau lebih • Luka bakar yang melibatkan muka, lengan, mata, telinga kaki dan perineum.
3)       Luka bakar pada jalan pernapasan atau adanya komplikasi pernapasan.
4)      Luka bakar sengatan listrik(elektrik).
5)      Luka bakar yang ditandai dengan masalah yang memperlemah daya tahan tubuh seperti luka jaringan lunak, fraktur, trauma lain atau masalah kesehatan sebelumnya.

C.    Anatomi fisiologi Kulit

Kulit adalah ‘selimut’ yang menutupi permukaan tubuh dan memiliki fungsi utama sebagai pelindung dari berbagai macam gangguan dan rangsangan luar. Luas kulit pada manusia rata-rata ± 2 meter persegi, dengan berat 10 kg jika dengan lemaknya atau 4 kg jika tanpa lemak. Kulit terbagi atas dua lapisan utama, yaitu epidermis (kulit ari) sebagai lapisan yang paling luar dan Dermis (korium, kutis, kulit jangat). Sedangkan subkutis atau jaringan lemak terletak dibawah dermis(9).
Ketebalan epidermis berbeda-beda pada berbagai bagian tubuh, yang paling tebal berukuran 1 milimeter, misalnya pada telapak kaki dan telapak lengan, dan lapisan yang tipis berukuran 0,1 milimeter terdapat pada kelopak mata, pipi, dahi, dan perut. Karena ukurannya yang tipis, jika kita terluka biasanya mengenai bagian setelah epidermis yaitu dermis. Dermis terutama terdiri dari bahan dasar serabut kolagen dan elastin. Serabut kolagen dapat mencapai 72 persen dari keseluruhan berat kulit manusia bebas lemak(9).
Pada bagian dalam dermis terdapat adneksa-adneksa kulit. Adneksa kulit merupakan struktur yang berasal dari epidermis tetapi berubah bentuk dan fungsinya, terdiri dari folikel rambut, papila rambut, kelenjar keringat, saluran keringat, kelenjar sebasea, otot penegak rambut, ujung pembuluh darah dan serabut saraf, juga sebagian serabut lemak yang terdapat pada lapisan lemak bawah kulit (subkutis/hipodermis)(9).
Gambar 2. Bagian-bagian kulit(9)
Sama halnya dengan jaringan pada bagian tubuh lainnya, kulit juga melakukan respirasi (bernapas), menyerap oksigen dan mengeluarkan karbondioksida. Namun, respirasi kulit sangat lemah. Kulit lebih banyak menyerap oksigen yang diambil dari aliran darah, dan hanya sebagian kecil yang diambil langsung dari lingkungan luar (udara). Begitu pula dengan karbondioksida yang dikeluarkan, lebih banyak melalui aliran darah dibandingkan dengan yang diembuskan langsung ke udara(9).
Meskipun pengambilan oksigen oleh kulit hanya 1,5 persen dari yang dilakukan oleh paru-paru, dan kulit hanya membutuhkan 7 persen dari kebutuhan oksigen tubuh (4 persen untuk epidermis dan 3 persen untuk dermis), pernapasan kulit tetap merupakan proses fisiologis kulit yang penting. Pengambilan oksigen dari udara oleh kulit sangat berguna bagi metabolisme di dalam sel-sel kulit. Penyerapan oksigen ini penting, namun pengeluaran atau pembuangan karbondioksida (CO2) tidak kalah pentingnya, karena jika CO2 menumpuk di dalam kulit, ia akan menghambat pembelahan (regenerasi) sel-sel kulit(9).

D.    Etiologi

Luka bakar disebabkan oleh dari sumber panas ke tubuh. Panas tersebut mungkin di pindahkan melalui konduksi atau radiasi elektromagnetik. Berbagai faktor dapat menjadi penyebab luka bakar, beratnya luka bakar juga dipengaruhi oleh cara dan lamanya kontak dengan sumber panas (misalnya suhu benda yang membakar, jenis pakaian yang terbakar, sumber panas: api, air panas dan minyak panas), listrik, zat kimia, radiasi, kondisi ruangan saat terjadi kebakaran dan ruangan yang tertutup Faktor yang mempengaruhi beratnya luka bakar antara lain :
1.      Keluasan luka bakar
2.      Kedalaman luka bakar
3.      Umur pasien
4.      Agen penyebab
5.      Fraktur atau luka lain yang menyertai
6.      Penyakit yang dialami terdahulu seperti diabetes, ginjal, jantung, dll.
7.      Obesitas
8.      Adanya trauma inhalasi


Gambar 2. Presentase etiologi
(8)

E.     Patofisiologi

Luka bakar disebabkan oleh perpindahan energi dari sumber panas ke tubuh. Panas tersebut dapat dipindahkan melalui konduksi atau radiasi elektromagnetik, derajat luka bakar yang berhubungan dengan beberapa faktor penyebab, konduksi jaringan yang terkena dan lamanya kulit kontak dengan sumber panas. Kulit dengan luka bakar mengalami kerusakan pada epidermis, dermis maupun jaringan subkutan tergantung pada penyebabnya.
Terjadinya integritas kulit memungkinkan mikroorganisme masuk ke dalam tubuh. Kehilangan cairan akan mempengaruhi nilai normal cairan dan elektrolit tubuh akibat dari peningkatan pada permeabilitas pembuluh darah sehingga terjadi perpindahan cairan dari intravaskuler ke ekstra vaskuler melalui kebocoran kapiler yang berakibat tubuh kehilangan natrium, air, klorida, kalium dan protein plasma. Kemudian terjadi edema menyeluruh dan dapat berlanjut pada syok hipovolemik apabila tidak segera dilengani. Menurunnya volume intra vaskuler menyebabkan aliran plasma ke ginjal dan GFR (Rate Filtrasi Glomerulus) akan menurun sehingga haluaran urine meningkat. Jika resitasi cairan untuk kebutuhan intravaskuler tidak adekuat bisa terjadi gagal ginjal dan apabila resitasi cairan adekuat, maka cairan interstisial dapat ditarik kembali ke intravaskuler sehingga terjadi fase diuresis(5).

F.     Pathway















 







G.    Manifestasi Klinis

Manifestasi klinik yang muncul pada luka bakar sesuai dengan kerusakannya(5):
1.      Grade I : Kerusakan pada epidermis, kulit kering kemerahan, nyeri sekali, sembuh dalam 3-7 dan tidak ada jaringan parut.
2.      Grade II : Kerusakan pada epidermis dan dermis, terdapat vesikel dan edema subkutan, luka merah, basah dan mengkilat, sangat nyeri, sembuh dalam 28 hari tergantung komplikasi infeksi.
3.      Grade III : Kerusakan pada semua lapisan kulit, tidak ada nyeri, luka merah keputihan dan hitam keabu-abuan, tampak kering, lapisan yang rusak tidak sembuh sendiri maka perlu Skingraf.

H.    Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang yang diperlukan adalah(5) :
1.         Hitung darah lengkap : Peningkatan Hematokrit menunjukkan hemokonsentrasi sehubungan dengan perpindahan cairan. Menurutnya Hematokrit dan sel darah merah terjadi sehubungan dengan kerusakan oleh panas terhadap pembuluh darah.
2.         Leukosit akan meningkat sebagai respons inflamasi
3.         Analisa Gas Darah (AGD) : Untuk kecurigaan cedera inhalasi
4.         Elektrolit Serum. Kalium meningkat sehubungan dengan cedera jaringan, hipokalemia terjadi bila diuresis.
5.         Albumin serum meningkat akibat kehilangan protein pada edema jaringan
6.         Kreatinin meningkat menunjukkan perfusi jaringan
7.         EKG : Tanda iskemik miokardia dapat terjadi pada luka bakar
8.         Fotografi luka bakar : Memberikan catatan untuk penyembuhan luka bakar selanjutnya.

I.       Penatalaksanaan Luka Bakar

Penatalaksanaan pasien luka bakar sesuai dengan kondisi dan tempat pasien dirawat melibatkan berbagai lingkungan perawatan dan disiplin ilmu antara lain mencakup penanganan awal (ditempat kejadian), penanganan pertama di unit gawat darurat, penanganan di ruangan intensif dan bangsal. Tindakan yang dilakukan antara lain terapi cairan, fisioterapi dan psikiatri pasien dengan luka bakar memerlukan obat-obatan topikah karena eschar tidak dapat ditembus dengan pemberian obat antibiotik sistemis. Pemberian obat- obatantopikah anti mikrobial bertujuan tidak untuk mensterilkan luka akan tetapi untuk menekan pertumbuhan mikroorganisme dan mengurangi kolonisasi, dengan pemberian obat-obatan topikah secara tepat dan efektif dapat mengurangi terjadinya infeksi luka dan mencegah sepsis yang sering kali masih terjadi penyebab kematian pasien.
1.      Tatalaksana resusitasi luka bakar
a.       Tatalaksana resusitasi jalan napas
1)      Inkubasi : tindakan inkubasi dikerjakan sebelum edema mukosa
2)      Krikotiroidomi :bertujuan sama dengan inkubasi hanya dianggap agresif
3)      Pemberian oksigen 100%
4)      Perawatan jalan napas
5)      PenghiasanSecret
6)      Pemberian terapi inhalasi
7)      Bilasan bronkoalveolor
8)      Perawatan rehabilitatif untuk respirtif
9)      Eskarotomi
b.      Tatalaksana resusitasi cairan
1)      Cara Evans
2)      Cara baxter
c.       Resusitasi nutrisi Pada pasien luka bakar,pemberian nutrisi enteral sebaiknya dilakukan sejak dini
2.      Penanganan Luka
a.       Pendinginan luka
b.      Debridemen
c.       Tindakan pembedahan
d.      Split cangkok kulit
e.       Flap
3.      Terapi manipulasi lingkungan
a.       Fase inflamasi
b.      Fase fibrolastic
c.       Fase maturbasi

J.      Komplikasi

1.      Segera Sindrom kompartemen dari luka bakar sirkumferensial ( luka bakar pada ekstremitas iskemia ekstremitas, luka bakar pada toraks hipoksia dari gagal napas restriktif) ( cegah dengan eskaratomi segera)(5).
2.      Awal
a.       Infeksi ( waspadai steptococcus ) obati infeksi yang timbul ( 10% organisme pada biopsi luka ) dengan antibiotik sistemis.
b.      Ulkus akibat stres ( ulkus cerling) ( cegah dengan antasida, broker H2 atau inhibitor pompa proton profilaksis)
c.       Hiperkalsemia ( dari sitolisis pada luka bakar luas). Obati dengan insulin, dekstrosa.

 

 

 

 

 

 


BAB III

KONSEP KEPERAWATAN

A.    Pengkajian

Pada data pengkajian tergantung pada tipe, berat dan permukaan tubuh yang terkena, antara lain(5) :
1.      Aktivitas / Istirahat
Tanda : Penundaan kekuatan, tahanan, keterbatasan rentang gerak, perubahan tonus.
2.      Sirkulasi
Tanda : Hipotensi (syok), perubahan nadi distal pada ekstremitas yang cedera, kulit putih dan dingin (syok listrik), edema jaringan, disritmia.
3.      Integritas ego
Tanda dan Gejala : Kecacatan, kekuatan, menarik diri
4.      Eliminasi
Tanda : diuresis, haluaran urine menurun fase darurat, penurunan mobilitas usus.
5.      Makanan / Cairan
Tanda : edema jaringan umum, anoreksia, mual dan muntah
6.      Neurosensori
Gejala : area kebas, kesemutan
Tanda : perubahan orientasi, afek, perilaku, aktivitas kejang, paralisis (Cedera aliran listrik pada aliran Saraf)
7.      Nyeri / kenyamanan
Gejala : nyeri, panas
8.      Pernafasan
9.      Gejala : Cedera inhalasi (terpajan lama)
Tanda : serak, batuk, sianosis, jalan nafas atas stridor bunyi nafas gemiricik, ronkhiSecret dalam jalan nafas
10.  Keamanan Tanda :
destruksi jaringan, kulit mungkin coklat dengan tekstur seperti : lepuh, ulkus, nekrosis atau jaringan parut tebal.

B.     Diagnosa

1.      Difisit volume cairan b.d hambatan mengakses cairan, asupan cairan kurang, kurang pengetahuan tentang kebutuhan cairan
2.      Nyeri akut b.d agen cedera kimiawi.
3.      Hambatan mobilitas fisik b.d penurunan kekuatan otot, penurunan kendali otot, penurunan ketahanan otot, nyeri.
4.      Kerusakan integritas jaringan kulit b.d kekurangan volume cairan, agen cedera kimiawi
5.      Risiko infeksi dengan factor risiko gangguan integritas kulit

C.    Kriteria Hasil

1.      Difisit volume cairan b.d hambatan mengakses cairan, asupan cairan kurang, kurang pengetahuan tentang kebutuhan cairan.
Hidrasi: Turgor kulit, intake cairan, output urine.
2.      Nyeri akut b.d agen cedera kimiawi.
Tingkat ketidak nyamanan: Nyeri, cemas, depresi
3.      Hambatan mobilitas fisik b.d penurunan kekuatan otot, penurunan kendali otot, penurunan ketahanan otot, nyeri.
Pergerakan: keseimbangan, gerakan otot, gerak sendi
4.      Kerusakan integritas jaringan kulit b.d kekurangan volume cairan, agen cedera kimiawi
Integritas jaringan; Kulit & membrane Mukosa: Sensasi, elastisitas, hidrasi, kering, integritas kulit.
5.      Risiko infeksi dengan factor risiko gangguan integritas kulit
Penyembuhan luka bakar: presentase kesembuhan area luka bakar, granulasi jaringan, pergerakan sendi yang terkena.

D.    Intervensi

1.      Difisit volume cairan b.d hambatan mengakses cairan, asupan cairan kurang, kurang pengetahuan tentang kebutuhan cairan.
Manajemen cairan:
a.       Kaji lokasi dan luasnya edema jika ada
b.      Berika cairan dengan tepat
c.       Berikan terapi IV, seperti yang ditentukan
d.      Tingkatkan asupan oral
e.       Dukung pasien dan keluarga untuk membantu dalam memberikan makan dengan baik
2.      Nyeri akut b.d agen cedera kimiawi.
Menejement nyeri:
a.       Lakukan pengkajian nyeri komprehensif yang meliputi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas atau beratnya nyeri dan factor pencetus
b.      Gunakan strategi komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalam nyeri dan sampaikan penerimaan pasien terhadap nyeri.
c.       Berikan informasi mengenai nyeri, seperti penyebab nyeri, berapa lama nyeri akan dirasakan, dan antisipasi dari ketidak nyamanan akibat prosedur
d.      Pastikan perawatan analgesic bagi pasien dilakukan dengan pemantauan yang tepat
3.      Hambatan mobilitas fisik b.d penurunan kekuatan otot, penurunan kendali otot, penurunan ketahanan otot, nyeri.
Terapi;latihan ambulasi:
a.       Beri pasien pakean yang tidak mengekang
b.      Sediakan tempat tidur yang berketinggian rendah
c.       Bantu pasien untuk duduk disisi tempat tidur untuk memfasilitasi penyesuaian sikap tubuh
d.      Bantu pasien untuk ambulasi awal jika diperlukan.
4.      Kerusakan integritas jaringan kulit b.d kekurangan volume cairan, agen cedera kimiawi
Perawatan luka:
a.       Monitor karakteristik luka, termaksut drainase, warna, ukuran, dan bau
b.      Ukur luas luka yang sesuai
c.       Bersihkan dengan normal saline atau pembersih yang tidak beracun dengan sesuai
d.      Oleskan salep yang sesuai dengan kulit/lesi
5.      Risiko infeksi dengan factor risiko gangguan integritas kulit
Kontrol infeksi:
a.       Bersihkan lingkungan dengan baiksetelah digunakan untuk setiap pasien
b.      Anjurkan pasien mengenai tehnik mencuci tangan dengan tepat
c.       Lakukan tindakan-tindakan pencegahan yang bersifat universal
d.      Pakai sarung tangan steril yang tepat

 



BAB IV

ASUHAN KEPERAWATAN

A.    Kasus

Seorang pasien Pria bernama Tn. R Berusia 24 tahun, datang dirumah sakit pada tanggal 10 mei 2020, jam 06.15 WITA dengan keluhan mengalami luka dibagian lengan kanan depan. Luka tersebut terjadi saat pasien hendak menganti air radiator mesin kapal yang dimilikinya yang masih dalam keadaan panas. Kemudian pasien dilarikan ke rumah sakit terdekat guna mendapatkan pertolongan. Saat berada dilokasi kejadian, warga sempat memberikan pertolongan pertama pada Tn. R dengan cara menyiram area yang terkena luka dengan air mengalir sebelum akhirnya pasien dibawa ke rumah sakit.

B.     Pengkajian

1.      Biodata pasien
a.         Nama                                   : Tn. R
b.         Jenis kelamin                        : Laki-laki
c.         Tempat, tanggal lahir/usia    : Meluhu, 13 Mei 1996
d.        Alamat                                 : Kel. Meluhu, Kec. Meluhu
e.         Pekerjaan                             : Mahasiswa
f.          Agama                                 : Islam
g.         Suku bangsa/ras                   : Tolaki
h.         Pendidikan terakhir             : SMA sederajat
i.           Diagnosa medis                   : Combustio
2.      Identitas keluarga/wali
a.       Nama                                                : Tn. A
b.      Jenis kelamin                                    : Laki-laki
c.       Usia                                                  : 56 tahun
d.      Alamat                                              : Kel. Meluhu, Kec. Meluhu
e.       Hubungan keluarga dengan pasien   : Orang tua pasien
3.      Riwayat kesehatan
a.       Keluhan utama saat MRS                        : klien mengeluh nyeri pada bagian lengan
                                                                 kanan depan akibat tersiram air panas
b.      Keluhan utama saat pengkajian               : klien mengeluh nyeri pada bagian lengan
                                                                 kanan depan akibat tersiram air panas
c.       Riwayat keluhan utama                           : nyeri akibat tersiram air panas, dirasakan
                                                                 seperti terbakar pada area lengan kanan
                                                                 skla 6 depan dan dirasakan terus
                                                                 menerus. Klien nampak melindungi area
                                                                yang terkena air panas serta klien juga
                                                                nampak meringis
d.      Riwayat kesehatan sekarang                    : Klien Mengalami luka bakar pada bagian
                                                                 lengan kanan bagian depan akibat
                                                                 siraman air panas.
e.       Riwayat penyakit yang pernah diderita   : -
f.       Kebiasaan                                                : Minum kopi
g.      Riwayat alergi                                          : alergi makanan (udang, kepiting dan
                                                                 cumi-cumi)
h.      Riwayat kehamilan                                  : -
i.        Riwayat kesehatan keluarga                    :
4.      Keadaan umum dan tanda-tanda vital
a.       Keadaan Umum   : GCS 15 (composmetis)
b.      Td                         : 120/80 MmHg
c.       N                          : 100 X/Menit
d.      S                           : 36,8o C
e.       R                           : 18 X/Menit
5.      Pengkajian fisik (integumen)
a.       Inspeksi
1)      Edema                   : Lengan depan bawah mengalami edema kulit
2)      Diaphoresis            :
3)      Kelembapan kulit  : basah
4)      Warna kulit            : merah (lengan depan atas), merah kehitaman (lengan
                              depan bawah
5)      Drainase                :
6)      Balutan                  : -
7)      Ulkus/luka             : luka pada bagian lengan depan
8)      Kelainan rambut    : -
9)      Kelainan kuku       : -
b.      Palpasi
1)      Suhu                      : hangat
2)      Turgor                    : -
3)      Nyeri tekan            : nyeri pada bagian lengan kanan depan
Gambaran area luka tampak depan
Gambar 4. Area luka bakar
Catatan: Luka yang dialami oleh pasien berada pada bagian lengan kanan depan seluas 4,5%, grade I dan II. Sebagian lengan kanan depan pasien terjadi bulae (bagian bawah) dan sebegaian lagi hanya mengalami kemerahan saja.



C.    Analisa data

1.      Nama       : Tn. R
2.      Dignosa   : Combustio
3.      Umur       : 24 th
No
Data
Etiologi
Problem
1.
Ds:
Klien mengeluh nyeri akibat tersiram air panas, dirasakan seperti terbakar pada area lengan kanan depan skala 6 dan dirasakan terus menerus. Klien juga melindungi area nyeri serta nampak meringis.

Do:
Ada luka bakar pada lengan kanan depan, kulit merah dan terasa hangat, ada edema kulit pada lengan kanan atas bagian depan serta nyeri tekan pada bagian luka.
TTV
Td        : 120/80 MmHg
N         : 100 X/Menit
S          : 36,8o C
R         : 18 X/Menit

Luka bakar
 


Kerusakan jaringan kulit
 


(epidermis, dermis)
 


Merangsang syaraf perifer
 


Nyeri akut
Nyeri akut b.d agen cedera kimiawi
2.
Ds:
Klien mengeluh nyeri akibat tersiram air panas, dirasakan seperti terbakar pada area lengan kanan depan skala 6 dan dirasakan terus menerus. Klien juga melindungi area nyeri serta nampak meringis.

Do:
Terdapat luka bakar pada bagian lengan kanan depan 4,5% grade I dan grade II, kulit sebagian tampak merah dan sebagian lagi Nampak merah kehitaman

Luka bakar
 


Kerusakan jaringan kulit
 


(epidermis, dermis)
 


Kerusakn integritas jaringan


Kerusakn integritas jaringan kulit b.d agen cedera kimia

3.
Do:
Terdapat luka bakar pada bagian lengan kanan depan 4,5% grade I dan grade II, kulit sebagian tampak merah dan sebagian lagi Nampak merah kehitaman

Luka bakar
 


Kerusakan jaringan kulit
 


(epidermis, dermis)
 


Port the entry microorganism
 


Risiko infeksi
Risiko infeksi dengan factor risiko gangguan integritas kulit
Table 2. analisa data

D.    Diagnose

1.         Nyeri akut b.d agen cedera kimiawi
2.         Kerusakn integritas jaringan kulit b.d agen cedera kimia
3.         Risiko infeksi dengan factor risiko gangguan integritas kulit



E.     Rencana asuhan keperawatan keperawatan

Nama Inisial Pasien : Tn. R                                                                 Diagnosa Medis          : Combustio
Umur                           : 24 Th                                                             No. Register                :

NO
Diagnosa Keperawatan
Tujuan
& Kriteria Hasil (NOC)
Intervensi (NIC)

  1.  
Domain :12 Kenyamanan
Kelas    : 1 Kenyamanan fisik
Kode    : 00132
Nyeri akut b.d agen cedera kimiawi
ditandai dengan :
DS :
Klien mengeluh nyeri akibat tersiram air panas, dirasakan seperti terbakar pada area lengan kanan depan skala 6 dan dirasakan terus menerus. Klien juga melindungi area nyeri serta nampak meringis.
Do:
Ada luka bakar pada lengan kanan depan, kulit merah dan terasa hangat, ada edema kulit pada lengan kanan atas bagian depan serta nyeri tekan pada bagian luka.
TTV
Td        : 120/80 MmHg
N         : 100 X/Menit
S          : 36,8o C
R         : 18 X/Menit
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3X24  jam/menit :
Tingkat ketidaknyamanan (2109) (skala 1 :berat, 2 : cukup berat, 3 :sedang, 4 : ringan, 5 : tidak ada),

dengan kriteria :
a.       nyeri (skala 3  menjadi 4)

Intervensi Keperawatan
Menejemen nyeri (1400)
Aktivitas Keperawatan
1.      Lakukan pengkajian nyeri komprehensif yang meliputi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas atau beratnya nyeri dan factor pencetus
2.      Gunakan strategi komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalam nyeri dan sampaikan penerimaan pasien terhadap nyeri.
3.      Berikan informasi mengenai nyeri, seperti penyebab nyeri, berapa lama nyeri akan dirasakan, dan antisipasi dari ketidak nyamanan akibat prosedur
4.      Pastikan perawatan analgesic bagi pasien dilakukan dengan pemantauan yang tepat

  1.  
Domain : 11 Keamanan/perlindungan
Kelas    : 2 cedera fisik
Kode    : 00046
Kerusakn integritas jaringan kulit b.d agen cedera kimia
ditandai dengan :
Ds:
Klien mengeluh nyeri akibat tersiram air panas, dirasakan seperti terbakar pada area lengan kanan depan skala 6 dan dirasakan terus menerus. Klien juga melindungi area nyeri serta nampak meringis.

Do:
Terdapat luka bakar pada bagian lengan kanan depan 4,5% grade I dan grade II, kulit sebagian tampak merah dan sebagian lagi Nampak merah kehitaman
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3X24  jam/menit :
Integritas jaringan; Kulit & membrane Mukosa (1101)  (skala 1 :sangat terganggu, 2 : banyak terganggu, 3 : cukup terganggu, 4 : sedikit terganggu, 5 : tidak terganggu),

dengan kriteria :
a.       Suhu kulit (skala 3 menjadi 4)
b.      sensasi (skala 3 menjadi 4 )

Intervensi Keperawatan
Perawatan luka (3660)
Aktivitas Keperawatan :
a.       Monitor karakteristik luka, termaksut drainase, warna, ukuran, dan bau
b.      Ukur luas luka yang sesuai
c.       Bersihkan dengan normal saline atau pembersih yang tidak beracun dengan sesuai
d.      Oleskan salep yang sesuai dengan kulit/lesi


Domain : 11 Keamanan/perlindungan
Kelas    : 1 infeksi
Kode    : 00004
Risiko infeksi dengan factor risiko gengguan integritas kulit
ditandai dengan :
Do:
Terdapat luka bakar pada bagian lengan kanan depan 4,5% grade I dan grade II, kulit sebagian tampak merah dan sebagian lagi Nampak merah kehitaman.
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3X24  jam/menit :
Penyembuhan luka bakar (1106)  (skala 1 :sangat besar, 2 : besar, 3 :sedang, 4 : terbatas,5 : tidak ada),

dengan kriteria :
a.       nyeri (skala 3 menjadi 4)
b.      infeksi (skala 3 menjadi 4 )
c.       kulit melepuh (skala 3 menjadi 4 )

Intervensi Keperawatan
Kontrol infeksi (6540)
Aktivitas Keperawatan :
a.       Bersihkan lingkungan dengan baiksetelah digunakan untuk setiap pasien
b.      Anjurkan pasien mengenai tehnik mencuci tangan dengan tepat
c.       Lakukan tindakan-tindakan pencegahan yang bersifat universal
d.      Pakai sarung tangan steril yang tepat

Tabel 3. Rencana asuhan keperawatan




F.     Implementasi & evaluasi

Nama Inisial Pasien : Tn. R                                                                             Diagnosa Medis          : Combustio
Umur                           : 24 Th                                                                                     No. Register                :
Diagnosa Keperawatan
Implementasi
Evaluasi
Jam
Tanggal : 10 Mei 2020
Hari/tanggal: 13 mei 2020
Jam : 06.30
Domain :12 Kenyamanan
Kelas    : 1 Kenyamanan fisik
Kode    : 00132
Nyeri akut b.d agen cedera kimiawi

07.00
1.      Melakukan pengkajian nyeri komprehensif yang meliputi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas atau beratnya nyeri dan factor pencetus
Hasil : Ada luka bakar pada lengan kanan depan, kulit merah dan terasa hangat, ada edema kulit pada lengan kanan atas bagian depan serta nyeri tekan pada bagian luka dan juga rasa nyeri yang terus menerus
2.      Gunakan strategi komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalam nyeri dan sampaikan penerimaan pasien terhadap nyeri.
Hasil : pasien merasakan nyeri secara terus-menerus pada area lengan kanan depan
3.      Berikan informasi mengenai nyeri, seperti penyebab nyeri, berapa lama nyeri akan dirasakan, dan antisipasi dari ketidak nyamanan akibat prosedur
Hasil : Nyeri yang dirasakan timbul akibat kontak dengan air panas secara langsung dan mengakibatkan respon syaraf perifer
4.      Pastikan perawatan analgesic bagi pasien dilakukan dengan pemantauan yang tepat
Hasil : pemberian ketorolac
S:klien mengatakan nyeri yang dirasakan berkurang
O:pasien tidak Nampak meringis, serta tidak melindungi area nyeri
TTV
Td        : 120/80 MmHg
N         : 80 X/Menit
S          : 36,8o C
R         : 18 X/Menit
A:masalah teratasi
P: pasien pulang intervensi dihentikan

Domain : 11 Keamanan/perlindungan
Kelas    : 2 cedera fisik
Kode    : 00046
Kerusakn integritas jaringan kulit b.d agen cedera kimia


1.      Memonitor karakteristik luka, termaksut drainase, warna, ukuran, dan bau
Hasil : kulit sebagian tampak merah dan sebagian lagi Nampak merah kehitaman
2.      Mengukur luas luka yang sesuai
Hasil : Terdapat luka bakar pada bagian lengan kanan depan 4,5% grade I dan grade II,
3.      Membersihkan dengan normal saline atau pembersih yang tidak beracun dengan sesuai
Hasil : luka dibersihkan dengan larutan NaCl 0,9%
4.      Mengoleskan salep yang sesuai dengan kulit/lesi
Hasil : salep yang diberikan adalah bioplasenton
S:klien mengatakan nyeri berkurang, tidak ada lagi sensasi terbakar
O:bulae pada lengan mulai berkurang namun masih terdapat luka, suhu kulit baik.
A:masalah belum teratasi
P: intervensi dihentikan pasien pulang

Domain : 11 Keamanan/perlindungan
Kelas    : 1 infeksi
Kode    : 00004
Risiko infeksi dengan factor risiko gengguan integritas kulit


1.      Membersihkan lingkungan dengan baik setelah digunakan untuk setiap pasien
Hasil : lingkungan dibersihkan setelah digunakan oleh setiap pasien
2.      Menganjurkan pasien mengenai tehnik mencuci tangan dengan tepat
Hasil : pasien diajarkan tehnik mencuci tangan 6 langkah
3.      Melakukan tindakan-tindakan pencegahan yang bersifat universal
Hasil : pembatasan pengunjung, sterilisasi alat, mencuci tangan 6 langkah dan control lingkungan
4.      Memakai sarung tangan steril yang tepat
Hasil : sarung tangan steril digunakan
S:klien mengatakan merasa nyaman dengan lingkungan
O:lingkungan terkendali, namun masih terdapat luka sebagai factor risiko
A:masalah teratasi
P: intervensi dihentikan pasien pulang

Tabel 4. Implemetansi & evaluasi


BAB V

PENUTUP

A.    Kesimpulan

Luka bakar merupakan kerusakan integritas jaringan akibat adanya kontak langsung tubuh dengan sumber panas baik dari api secara langsung, sengatan listrik, bahan kimia maupun akibat paparan sinar matahari. Proses luka bakar bermula ketika terjadi perpindahan panas dari luar ke tubuh baik secara konduksi maupun radiasi, tingkat keparahan yang terjadi tergantung dari penyebab luka bakar dan lama kontak dengan sumber panas.
Untuk mencegah terjadinya luka bakar adalah dengan menghindari faktor penyebab luka dan menggunakan pelindung diri ketika melakukan kegiatan yang berkaitan dengan penyebab terjadinya luka serta memperhatikan aspek kesehatan keselamatan kerja.
Rumusan asuhan keperawatan pada kasus luka bakar dari makalah ini, umumnya sama pada asuhan keperawatan lainnya yang terdiri dari pengkajian, diagnosa, intervensi, implenentasi dan evaluasi, dengan buku nanda nic noc sebagai bahan acuan. Pada kasus luka bakar kali ini saya menggunakan pengkajian KMB sistem integument.

B.     Saran

1.      Bagi mahasiswa, intervensi yang dilakukan diatas dapat diterapkan untuk kasus luka bakar. Namun, tetap harus disesuaikan dengan kasus yang ada sehingga dibutuhkan pengembangan materi selanjutnya.
2.      Makalah ini juga dapat dijadikan referensi untuk menambah pengetahuan masyarakat tentang luka bakar akibat air panas.
3.      Bagi ilmu keperawatan, makalah ini juga dapat dijadikan sebagai referensi tambahan mengenai luka bakar akibat air panas grade I dan II.

DAFTAR PUSTAKA


1.        SAFITRI ED. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Dengan Intervensi Inovasi Pemberian Aromaterapi Mawar Dan Terapi Murottal Al-Quran Terhadap Peningkatan Kualitas Tidur Pada Pasien An. D Dengan Combustio Di Ruang Picu Rsud Abdul Wahab Sjahranie Tahun 2017. 2017;
2.        Marissa K. Analisis Praktik Klinik Keperawatan Pada Pasien Combustio Dengan Inovasi Intervensi Terapi Spiritual Emotional Freedom Technique (Seft) Terhadap Respon Adaptasi Psikologis Di Ruang Intensive Care Unit (Icu) Rsud Abdoel Wahab Sjahranie Samarinda. 2017;
3.        Lucia Anik Purwaningsih EMR. Respon Adaptasi Fisiologis Dan Psikologis Pasien Luka Bakar Yang Diberikan Kombinasi Alternative Moisture Balance Dressing Dan Seft Terapi Di Rsup Dr. Sardjito Yogyakarta. IEEE Int Conf Acoust Speech, Signal Process 2017. 2017;41(2):84–93.
4.        Novi Rimba sari, Yogie Irawan MMLJ. Pengaruh Pemberian Sediaan Emulgel Ekstrak Buah Mahkota Dewa (Phaleria Macrocarpa (Scheff).Boerl.)Dengan Kitosan Sebagaigelling Agent Terhadap Penyembuhan Luka Bakar Pada Tikus. 2016;
5.        LEDOH OO. Asuhan Keperawatan Pada Tn A.N Dengan Combutio Diruang Asoka Rsud Prof Dr W.Z Yohanes Kupang. 2019;
6.        Harvita SRI, Marpaung S. Pelaksanaan proses pengkajian keperawatan pada pasien luka bakar. 2019;
7.        Juniasti M. Kebijakan keselamatan pasien pada pasien luka bakar. 2017;
8.        Susianti SWK. Luka Bakar Derajat II-III 90 % karena Api pada Laki-laki 22 Tahun di Bagian Bedah Rumah Sakit Umum Daerah Abdoel Moeloek Lampung. 2017;7:143.
9.        Pamesti A reni. Absorbent Dressing Sponge Berbasis Alginat-Kitosan Berkurkumin Untuk Luka Derajat Eksudat Sedang-Besar. 2012;6–38


Komentar

Postingan populer dari blog ini

ASUHAN CRISIS CENTER KEPERAWATAN MARITIM

KEPERAWATAN MARITIM ASUHAN KEPERAWATAN DIARE